Tag

, , , , , , , , , , , , ,

Inglourious Basterds

Inglourious Basterds

QUENTIN TARANTINO buat film baru lagi, dan baru minggu lalu saya berkesempatan menontonnya. Berhubung sutradaranya Tarantino, maka setelah saya duduk di dalam sinema segera saya siapkan mata, hati, pikiran, dan nyali untuk segala kemungkinan yang bisa terpampang di layar perak di depan saya. Sejarah membuktikan, Tarantino sangat hobi dengan darah – gejolak emosi – dan jalan cerita yang sangat tidak bisa ditebak.

Ehm, selanjutnya saya agak bingung nih… antara mau menjelaskan jalan ceritanya atau tidak. Kalau saya tidak menjelaskan ceritanya, terus saya mau bahas apa di sini? Di sisi lain kalau saya ceritakan takutnya mengurangi kenikmatan buat yang belum menonton. Serba salah ya?

Begini saja, berhubung film ini sudah cukup lama diputar maka saya asumsikan sebagian besar sudah menonton. Saya nggak akan ceritakan terlalu detil, hanya beberapa potongan cerita saja yang lumayan mengena buat saya.

Sebenarnya apa yang membuat sebuah film bisa dikatakan FILM BAGUS? Saya bukan pakar resensi film, tapi kalau boleh sedikit berandai-andai jadi kritikus film maka ada beberapa cara bagi sebuah film untuk bisa masuk ke kategori bagus (menurut saya tentunya).

  • Film yang bertaburkan keindahan. Film jenis ini contohnya adalah LASKAR PELANGI. Dalam film ini kita dimanjakan dengan keindahan alam, keindahan masa kanak-kanak dengan segala romantikanya, keindahan sebuah SD yang hampir roboh dengan kejeniusan anak-anak didalamnya. Keindahan dalam film Laskar Pelangi hingga mampu menghanyutkan lamunan saya kembali ke masa kecil. Tentu saja “keindahan” yang saya maksud di sini tidaklah belaka hanya berisi hal-hal yang menyenangkan. Penderitaan dan kegagalanpun mampu dikemas menjadi sebuah keindahan yang mewarnai kehidupan ini.
Laskar Pelangi

Laskar Pelangi

    • Film yang merasuk ke dalam jiwa. Film jenis ini contohnya adalah THE GODFATHER. Film yang satu ini memang sangat fenomenal. Ketika kita menontonnya, kita serasa bukanlah menyaksikan sebuah film tetapi seperti menyaksikan sebuah kehidupan nyata dengan orang-orangnya didalamnya. Setiap aktor dan aktris didalamnya seakan bukan lagi berakting, tetapi seperti hidup dalam kehidupan kesehariannya. Melihat The Godfather seakan jiwa kita dibawa memasuki alam kehidupan mereka, disitulah letak kenikmatan yang ditawarkan film tersebut. Dari generasi ke generasi, kita menyaksikan pergumulan masing-masing karakter. Kita diajak untuk memahami situasi dan kondisi yang mereka hadapi, dan melihat jalan mana yang mereka pilih dalam kehidupan ini. Adegan yang terasa paling “menyengat” adalah kesedihan yang teramat sangat dari seorang Michael Corleone (Al Pacino) ketika anak perempuan kesayangannya mati tertembak di depan matanya. Betul-betul akting nomor satu yang disuguhkannya. Superb!!!
      The Godfather

      The Godfather

      • Film yang memainkan imajinasi dan realita. Nah, barangkali di sisi sini film INGLOURIOUS BASTERDS menawarkan keunggulannya. Seperti biasa, Quentin Tarantino begitu liar memainkan realita yang tersamarkan dengan imajinasi. Bumbu-bumbu sadisme makin menguatkan karakter film ini. Bagi yang nggak kuat lihat darah, mendingan jauh-jauh deh dari film ini. Sadis coy…
      Inglourious Basterds - Sadis

      Inglourious Basterds - Sadis

      Untuk menggambarkan salah satu kesadisan dalam film ini, lihat saja foto adegan di atas. Ya benar, itu adalah adegan di mana tentara Amerika sedang “memahat” kepala tentara NAZI dengan lambang NAZI menggunakan belati. Yang namanya adegan DAR DER DOR… segala aksi dengan pisau atau belati menyayat kulit… merupakan rutinitas dalam film ini. Siapkanlah nyali dan perut Anda untuk menyaksikan adegan pengirisan kulit kepala tersebut.

      Inglourious Basterds - The NAZIs

      Inglourious Basterds - The NAZIs

      Lalu bagaimana dengan kesadisan tentara NAZI? Juga digambarkan dalam film ini, bagaimana kejamnya tentara NAZI dalam membantai keluarga Yahudi. Kebengisan, kelicikan, serta kejeniusan dalam satu karakter dengan sangat indah diperankan dalam tokoh Hans Landa… seorang perwira NAZI yang bertugas menghabisi Yahudi di Prancis. Sungguh sebuah akting yang memukau, membawa Christoph Waltz – pemeran aktor Hans Landa – memenangkan penghargaan di Cannes tahun 2009 ini.

      Lepas dari segala bumbu sadisme yang sangat kuat mewarnai film ini, ada 2 hal tentang sisi lain kehidupan yang justru tampil dengan samar-samar dan sangat menarik untuk dicermati…

      • PERANG ITU SADIS!!! With alll due respect terhadap segala slogan Kemerdekaan, Hak Asasi Manusia, dan lain-lain… satu hal yang pasti bahwasanya yang namanya perang itu sangat sadis. Untuk para saudara-saudara yang gembar-gembor tentang perang dengan Malaysia, tolong dipertimbangkan lagi… Kalau ada pepatah “Darah itu merah, Jenderal!” – maka kalau versi saya “Perang itu sadis, kawan…”. Benar-benar sebuah cara penyelesaian masalah yang paling primitif yang ada dalam peradaban manusia, itupun kalau bisa dikategorikan peradaban. Perang = adab?
      • HOMO HOMINI LUPUS!!! Dalam sebuah situasi yang sangat kritis, apalagi masalah hidup dan mati – maka disitulah sifat-sifat atau naluri dasar manusia muncul. Egoisme, Oportunis, Sadis, Licik, dan berbagai karakter lainnya sebagai pengejawantahan dari frasa “HOMO HOMINI LUPUS” – A man is a wolf to (his fellow) man.

      INLGOURIOUS BASTERDS, sebuah masterpiece baru dari Quentin Tarantino yang berhasil menampilkan realita dari wujud naluri homo homini lupus manusia dalam kemasan film yang sangat imajinatif. Recommended!!! Two thumbs up!!!

      BRAVO QUENTIN TARANTINO!!!!

      Salam damai…