Tag

, , , , ,

Aura Kasih

Masih cukup kental di benak saya, sebuah quote yang sangat indah yang saya dapat dalam perjalanan ke kantor Senin pagi minggu lalu. Serangkai kata-kata mutiara dari Pak Mario Teguh yang saya dengar melalu Smart FM,

“Orang BAIK adalah orang BENAR yang SANTUN”.

Jadi menurut Pak Mario, orang baik itu ada 2 syaratnya: BENAR dan SANTUN. Sambil terus mendengarkan, mobil sayapun mulai berbelok dari arah Matraman menuju Proklamasi. Sambil terus lihat kanan kiri begitu berserabutan motor-motor ibarat rombongan lebah, hati saya terus diingatkan untuk santun… sabar…

Lebih lanjut lagi diteruskan kata-kata mutiara tersebut,

“Orang BENAR yang tidak SANTUN akan menjauhkan orang lain dari KEBENARAN”

tetapi di sisi lain,

“Kita juga harus berhati-hati terhadap KESANTUNAN yang menutupi KETIDAKBENARAN”

Ah, pagi-pagi sudah dapat pesan yang begitu indah… tetapi juga begitu berat dan dalam maknanya.

Saya jadi ingat, entah pernah baca di mana gitu ada cerita yang kita-kita begini.

Tersebutlah seorang yang hidup lurus, nggak neko-neko berniat untuk jadi pertapa. Diapun kemudian mulai menjalankan laku tapanya, menjauhkan diri dari hal-hal duniawi dan mendekatkan diri pada kebenaran sejati dengan mengurung dirinya di sebuah rumah terpencil.

Pada suatu malam, datanglah sebuah ujian dalam bentuk seorang gadis yang berprofesi sebagai pelacur. Pelacur tersebut masuk ke dalam rumah di mana sang pertapa tersebut sedang bersemadi. Pelacur tersebut sangat kelaparan, dan meminta makanan kepada sang pertapa. Sebagai imbalannya, sang pelacur bersedia menyediakan tubuhnya bagi sang pertapa.

Seketika itu juga naik pitamlah sang pertapa. Dengan segera diseretnya sang pelacur itu tadi dan serta merta ditendang keluar rumah. Pelacur itupun jatuh terjerembab dengan badan yang sudah tidak karuan lagi rasanya di halaman rumah. Dari tubuh yang terbengkalai itu kemudian menjelma wujud mulia yang menegur keras kepada sang pertapa atas kelakuannya…

Kalau dipikir dengan paradigma kebenaran, barangkali sang pertapa bertanya-tanya tentang apa yang salah dari perbuatannya. Dia sudah memegang teguh kebenaran, menegakkan tiang-tiang norma dan susila, mengaplikasikan hukuman bagi yang bersalah. Itu semua benar, hanya saja kalau mengacu ke apa yang dijelaskan Pak Mario tadi bahwa kebenaran itu harus disampaikan dalam KESANTUNAN.

Seringkali kita berusaha berbuat BENAR, dan kita MERASA sudah cukup benar maka kita mulai berusaha untuk mengajak orang lain supaya menjadi benar seperti kita. Nah, untuk kita yang akan mulai beranjak ke level itu sepertinya pesan yang disampaikan Pak Mario Teguh ini sangat penting untuk kita ingat. Tanpa KESANTUNAN, seluruh usaha kita mengajak justru akan menjadi bumerang yang menjauhkan orang dari kebenaran yang kita promosikan.

  • Bagaimana mungkin kita mengiklankan sebuah dunia yang indah bila kita menyampaikannya dengan amarah?
  • Bagaimana mungkin kita mempromosikan sebuah kehidupan yang lebih baik bila kita menyampaikan dengan cara merendahkan martabat orang lain?
  • Bagaimana mungkin kita memperkenalkan KASIH bila orang tidak melihat KASIH dalam cara kita menyampaikannya?

Mari menebar AURA KASIH di sekitar kita…🙂

Salam damai…