Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

WISATA RASA – JOGJAKARTA (1)

Bagian pertama dari wisata rasa di Jogja ini adalah 3 menu yang sangat standar dan pastinya sudah banyak didatangi, yaitu Gudeg – Bakpia – Angkringan. 3 menu ini dapat kita nikmati dalam area sepelemparan batu dari jalan Malioboro.

Markas Kedaulatan Rakyat - korannya orang Jogja

Gudeg Yu Djum

Berlokasi di daerah Wijilan, daerah ini merupakan sentra Gudeg-nya Jogja. Kalau mau ke situ gampang sekali, tinggal lewat Malioboro lurus (Malioboro searah) sampai mentok di alun-alun Keraton lalu belok kiri ke arah plengkung. Nah lokasinya 100 meter dari plengkung situ. Atau kalau mau cara paling gampang, dari Malioboro tinggal naik becak. Bilang saja mau ke gudeg Wijilan, minta ke Yu Djum.

Gudeg Yu Djum ini sebenarnya pusatnya di dekat UGM atau di Selokan Mataram, tapi rasanya agak terlalu jauh kalau harus ke sana bagi kita para wisatawan.

Ciri khas dari gudeg Yu Djum ini adalah kuental dan muanis banget gudegnya. Pada dasarnya gudeg Jogja itu sudah manis, nah gudeg Yu Djum ini termasuk kategori manisnya gudeg Jogja. Tapi justru disitulah kekuatan rasanya. Pada kekentalan gudeg dan kemanisan rasanya.

Bicara tentang gudeg, saya sendiri karena sudah hampir tiap kali ke Jogja pasti ke Yu Djum maka kemarin ini saya juga coba sambangi tempat-tempat pedagang gudeg lainnya.

Satu nasihat yang selalu saya ingat adalah “Be a traveler, not a tourist”. Dan itu saya rasakan benar ketika saya pagi-pagi iseng makan gudeg di perempatan kecil dekat hotel tempat kami menginap. Benar saja, gudegnya uenak tenan… nggak kalah sama Yu Djum walaupun gudeg ini bukan aliran manis dan kental. Saya pesan gudeg sama brutu ayam, sama tempe mendoan, sambil nyeruput teh Wasgitel (Wangi Panas Sepet Legi Kentel), diakhiri dengan timus anget (yaitu kue dari ubi yang direbus dihaluskan dibentuk lonjong lalu digoreng). Selain makanannya yang ternyata mak nyus, pengalaman pagi hari ngobrol sama penjual gudeg sambil menyaksikan orang datang dan pergi beli sarapan merupakan pagi yang sangat indah bagi saya.

Coba deh, kalau lagi di Jogja mampir ke tempat-tempat seperti itu. Saya nggak mau menyebutkan tempatnya di mana ah, nanti malah jadi rame terus nggak asik lagi. Biarkanlah tempat-tempat itu seperti adanya, natural dan bersahabat… jauh dari komersialitas orang Jakarta, he he he…

Bakpia Pathok

Bakpia merupakan oleh-oleh wajib buat orang yang baru pergi ke Jogja. Nah ada yang unik tentang strategi marketing bakpia di Jogja. Penjual bakpia di Jogja ini menggunakan tukang becak sebagai sales-nya. Lihat saja, untuk jarak tempuh yang sama tariff becak bisa turun jauh kalau kita mau mampir ke toko bakpia yang direkomendasikan si tukang becak.

Saya sendiri termasuk yang senang dengan Bakpia 75 karena empuk, tetapi tukang becak selalu merekomendasikan ke Bakpia dengan nomor yang lain. Ya namanya juga usaha ya… he he he…

Bakpia ini merupakan panganan yang tidak bisa kita klaim sebagai warisan kuliner asli Indonesia, wong namanya saja Bak Pia – yaitu Pia yang mengandung Bak (Babi). Asal muasal Bakpia ini dari bangsa Cina, yang kemudian diadopsi oleh orang-orang Jogja dengan memodifikasi isinya dari mulai kacang hijau hingga coklat, keju, dan durian. Nama BakPia sendiri tetap dipakai hingga sekarang, walaupun isinya sudah bukan lagi Bak.

Pia sendiri ada yang jenis empuk seperti Bakpia Jogja, ada juga yang versi lebih keras dan biasanya kulitnya lebih mudah remuk kalau digigit seperti Pia Malang. Satu yang saya suka dari Bakpia Jogja adalah memakannya ketika masih hangat. Kita bisa menikmati kehangatannya kalau kita datang ke tempat pembuatan, atau toko-toko di sekitarnya.

Angkringan Kopi Joss

Menu gorengan angkringan

Jogja menyebutnya dengan Angkringan, Solo menyebutnya dengan Hik atau Hik Solo. Yang pasti tempatnya sangatlah sederhana, hanya gerobak atau pikulan sederhana dan bangku atau lesehan di sekitarnya.

Menunya sangat murah meriah:

  • nasi kucing (nasi + sambal + secuil bandeng),
  • bihun,
  • nasi oseng tempe,
  • gorengan tempe tahu,
  • beberapa macam sate (usus, kikil, telur, kerang)
  • teh dan kopi

untuk sekali makan normal, dibutuhkan sekitar 4 ribu hingga 7 ribu per orang. Tapi kalau lagi kalap ya bisa 10 ribu per orang. Satu bungkus nasinya sendiri berkisar 2 ribuan rupiah.

Angkringan kopi jos 3

Angkringan kopi jos

Yang unik dari angkringan di Jogja adalah adanya KOPI JOSS. Kopi joss ini berupa kopi tubruk, plus arang yang masih membara dicemplungkan ke dalamnya hingga berbunyi JOSSS!!!

Entah hasil penelitian dari mana, ternyata gabungan antara kopi tubruk dan bara menghasilkan rasa yang cukup nikmat. Rasa kopinya tambah kental tapi tetap seperti khasnya kopi tubruk jawa yang tidak suka rasa terlalu pahit dari kopi.

Untuk menemukan angkringan kopi jos ini tinggal cari Stasiun Tugu Jogjakarta yang letaknya di ujung utara Malioboro. Nah angkringan ini berlokasi di jalan kecil sebelah utara Stasiun, seperti yang lain-lain cara mudah menemukannya adalah menanyakannya ke tukang becak di Malioboro. Pokoke Mak Josss….

Sembari menyeruput kopi joss yang sangat joss ini, tiba-tiba mata ini tertumbuk pada selembar koran pembungkus makanan saya tadi. Weeee lhadalah, ternyata pesona Mbak Miyabi membahana sampai ke angkringan juga to…. Ealah, he he he…. ini saya sempat foto, coba dicari ketemu nggak hayo….

Ada Miyabi di Angkringan Kopi Jos...

(bersambung ke Wisata Rasa – Jogjakarta bagian 2…)

Salam damai…