Tag

, , , , , , , , , , , , , , ,

WISATA RASA – SOLO (1)

Menikmati lengangnya pagi hari di Jl. Slamet Riyadi Solo

.

Kota Solo merupakan kota yang sangat kaya dengan berbagai jenis masakannya. Karena kota solo sendiri merupakan gabungan antara kebudayaan Jawa dan keturunan Cina maka menghasilkan berbagai turunan makanan khas lokal yang unik dan masing-masing punya kekuatan rasa tersendiri.

Beruntung pada liburan akhir tahun 2009 saya berkesempatan merasakan beberapa pentolannya, dalam tema liburan WISATA RASA. Monggo….

Soto Triwindu

Salah satu menu sarapan andalan manakala anda sedang berada di Solo selain menu SOTO. Dan soto yang cukup terkenal yang saya sambangi kali ini adalah SOTO TRIWINDU.

Soto ini disebut Soto Triwindu karena asal muasalnya berlokasi di sebuah gang sempit di belakang Pasar barang antik Triwindu Solo. Pada saat pemugaran pasar Triwindu, soto itupun tergusur. Tapi bukannya tergusur jauh, justru lokasinya sekarang di jalan besar di daerah Keprabon.

Soto Triwindu ini berwarna bening agak coklat, yang berasal dari kuah sapi dan biasanya semakin coklat setelah dicampur sambal dan kecap untuk memperkuat rasanya.

Unik dan barangkali agak kebetulan, tapi saya rasakan soto Triwindu lebih mak nyus waktu masih ada di gang sempit dahulu (walaupun sekarang pun masih cukup mak nyus). Itulah barangkali uniknya sebuah rasa, merupakan paduan yang tak dapat dirumuskan antara bau tangan sang pemasak, atmosfir tempat memasak dan memakan, serta bahan-bahan masakan itu sendiri. Barangkali karena itu pula saya lebih suka soto triwindu yang dagingnya agak berlemak sehingga memperkental kuah sotonya dibandingkan buatan rumah sendiri yang menggunakan daging bersih yang lebih mahal harganya di pasar.

Menu Soto Triwindu memang paling cocok disantap di pagi hari, di mana udara belum terasa terlalu panas dan lidah masih terasa kosong sehingga nikmat untuk merasakan rasa soto yang ringan tetapi tetap spicy. Lebih mantap lagi ditambah lidah atau paru basah yang disajikan terpisah, mak nyusss….

Kupat Tahu

Nah, selain Soto maka menu sarapan andalan lainnya adalah KUPAT TAHU.

Kupat tahu ini merupakan menu yang sebenarnya cukup standar dan banyak dijumpai di mana-mana. Demikian pula di Solo, saya cukup mencarinya di pasar terdekat dari tempat saya menginap.

Tahunya biasa, begitu pula ketupat dan bahan lainnya. Tapi justru dari ke”biasa”an itulah nikmatnya kupat tahu kampung ini. Campuran rasanya, dan bagaimana mereka bisa menghibur lidah ini merupakan sensasi tersendiri. Lebih nikmat lagi menikmati kupat tahu ini di pasar, ya di pasar tradisional bersama orang-orang dari berbagai kalangan sosial dan ekonomi. Dalam istilah bule ini disebut semacam “melting pot”, di mana pengalaman seperti ini akan lebih dalam memaknai liburan saya dibandingkan menjadi turis yang menginap di hotel berbintang dan belanja sana sini tanpa ada interaksi lebih dalam dengan lokalitas setempat. Coba deh, nikmatnya terasa lain….

Nasi Liwet Yu Sani

Malam hari adalah saatnya untuk lidah ini dimanjakan oleh nasi liwet kota Solo yang sudah sangat dikenal di seluruh penjuru negeri. Salah satu  penjual nasi liwet yang terkenal enaknya adalah Nasi Liwet Yu Sani, berlokasi di Solo Baru sekitar 200-300 meter dari bundaran Solo Baru menuju ke arah Sukoharjo.

Sengaja untuk lebih memaksimalkan nasi liwet kali ini, saya pesan sebagai tambahan menu nasi liwet saya: BRUTU dan CEKER. Brutu adalah nama lain dari pantat ayam, di mana disitulah bagian yang menyimpan kelenjar lemak ayam. Tak heran bagian tersebut sangat berlemak, tapi di sisi lain itu menjadikannya bagian ayam yang ternikmat. Sedikit tips, untuk meminimalkan lemak yang kita makan maka ketika makan brutu ayam didalamnya ada kelenjar minyak sebesar kacang tanah. Nah bagian tersebut jangan dimakan karena disitulah biangnya lemak brutu ayam.

Nasi liwet Yu Sani tergolong cukup murah, di mana saya beli 10 porsi semuanya lengkap beserta potongan besar ayam (ya, potongan ayamnya besar-besar sekali…) plus ceker… untuk semua itu kira-kira seharga 2 large cup Caramel Macchiato di kedai kopi ternama di Jakarta. Bedanya adalah ini bisa dimakan 10 orang hingga kenyang yang… dan mak nyuuusss….

Tengkleng Mbak Diah

Tengkleng Kepala Kambing Mbak Diah Solo

Kambing!!! Lagi-lagi lidah ini dimanjakan oleh daging kambing. Dan untuk kesekian kalinya bagian kambing yang akan bergulat dengan lidah saya adalah KEPALA KAMBING!!!

Kali ini bukan dalam bentuk bacem atau tongseng yang pekat, tapi dalam bentuk TENGKLENG.

Berbeda dengan gule yang bersantan apalagi tongseng yang bersantan dan pekat, maka tengkleng ini tanpa santan dan lebih ringan rasanya walaupun tetap lebih pekat daripada sop karena mendapatkan lemak dari daging dan tulang kambing didalamnya.

Tempat makan Tengkleng Mbak Diah ini terletak di bunderan menuju ke Sukoharjo dan Solo Baru dari arah Jl. Yos Sudarso Solo. Lokasinya sekitar 20 meter dari bunderan jadi tidak susah dicari. Yang special dari tempat makan ini adalah ternyata merupakan LANGGANAN KELUARGA PAK HARTO. Sampai ada liputannya di Nova, dipajang di tembok. Pak Harto dan keluarganya (terutama keluarga istrinya) kan asal Solo, maka saya percaya saja deh dengan pilihan mereka untuk masalah tengkleng.. he he he…

Tengkleng Kepala Kambing langganan keluarga Pak Harto

Dulu Mbak Diah, sekarang lebih pantas dipanggil Bu Diah...

Menu yang saya pesan adalah tengkleng kepala kambing, tengkleng sum sum kambing, dan sate. Yang special rasanya tentunya tengkleng kepala kambingnya. Kuahnya gurih, ditambah gurihnya bagian-bagian kepala kambing tersebut. Mata kambingnya sangat gurih rasanya, karena memang bagian mata selalu memiliki tekstur yang beragam dalam satu ujud utuh. Ada yang kenyal, ada yang lembut macam berlendir, ada pula yang seperti tulang muda. Gurih sekali rasanya, muak nyuuusss….

Ini lho bagian Mata Kepala Kambingnya yang mak nyuss...

.

(bersambung ke Wisata Rasa – Solo bagian 2 yang nggak kalah mak nyuss…)

Salam damai…