Tag

, , , , , , , , , , , ,

WISATA RASA – JOGJAKARTA (2)

Sambungan dari Wisata Rasa – Jogjakarta sebelumnya, kali ini saya angkat 3 menu yang barangkali tidak terlalu terkenal tetapi memiliki keunikan yang sangat khas. Mudah-mudahan bisa jadi alternatif tujuan wisata kuliner di Jogja selain gudeg.

Bacem Kepala Kambing

Bacem tahu atau tempe, itu biasa… bacem kepala kambing, itu baru luar biasa. Berlokasi di Jalan Kaliurang km 7, sajian warung kecil ini hanya bagi yang bernyali kuat saja mengingat menunya KEPALA KAMBING.

Lebih lengkap tentang Bacem Kepala Kambing ini pernah saya ulas di liputan “BACEM KEPALA KAMBING”.

Sate Klathak

Daerah Jawa Tengah dan Jogjakarta termasuk penggemar Sate Kambing, di mana Madura lebih terkenal dengan Sate Ayamnya. Secara umum terdapat 2 mainstream sate kambing yang saya kenal di Jawa Tengah, yaitu aliran Sate Solo yang kental dengan nuansa lada – dan Sate Tegal yang lebih mengedepankan rasa daging asli kambing.

Di Jogja saya dapat referensi dari rekan saya untuk mencoba sate klathak. Keunikan dari sate klathak ini bukan pada rasanya tetapi lebih pada cara memasak dan penyajiannya.

Sate Klathak, jalan Imogiri Jogja

.

Sate Klathak - mentahannya...

.

Berbeda dengan sate kambing pada umumnya yang disajikan pada tusuk bambu, maka Sate Klathak ini menggunakan JERUJI (ya, jeruji) sebagai tusuk satenya. Barangkali karena menggunakan jeruji yang berbahan dari besi ini maka daging bagian dalam juga matang sekali berkat panas dari jeruji itu sendiri.

Sate Klathak, jalan Imogiri Jogja

.

Lokasi Sate Klathak ini ada di jalan menuju ke arah Imogiri dari Jogjakarta. Dari Ring Road Selatan kira-kira berjarak 4 km, di sekitar Pasar Jejeran.

Di tempat saya makan, selain menyajikan sate klathak juga disajikan pula tongseng kepala kambing. Wow, ternyata orang-orang Jogja benar-benar tidak menyia-nyiakan kambing yang mereka sembelih. Kepala kambingnya pun tak kalah mak nyus dibandingkan sate klathaknya itu sendiri. Top markotop, kalau Pak Bondan bilang…

Tongseng kepala kambing terhidang di piring...

.

Kepala Kambing utuh... masih di panci...

.

Trancam Bu Mayar

Wah, 2 hari dihajar dengan santan areh gudeg dan berbagai kepala kambing kok leher agak pegal ya… gawat juga. Hari ketiga, sambil jalan ke Solo saya niatkan untuk menyegarkan perut dan badan ini dengan menjauhkan diri dari segala lemak dan kolesterol yang nikmat itu dulu.

Pilihan jatuh pada menu TRANCAM.

Bagi yang belum tahu, trancam adalah satu jenis masakan urab. Ciri khas dari trancam ini ada pada kesegaran daun kemangi dan timun yang menyegarkan serta penyajiannya dalam kondisi dingin sehingga sangat nikmat disantap di siang hari yang terik.

Lokasi trancam bu Mayar ini terletak di desa Cawas, sekitar 5 km lepas dari Klaten menuju ke Solo. Letaknya di pinggir jalan utama Jogja – Solo, sehingga tidak sulit ditemukan. Pokoknya kalau sudah lewat Klaten, pelan-pelan saja nanti ada di sebelah kiri. Kesegarannya mantap… menyegarkan perut dan badan ini yang lelah menyetir. Mak nyusss….

Salam damai…