Tag

, , , , , , , , , ,

menyusuri jalan berangkat ke pasar Gawok

Hari itu hari Selasa Pon, sekitar jam 7 pagi. Atmosfer pagi hari di dusun Gawok masih jauh dari hingar bingar polusi CO knalpot dan cerobong industru, maupun dari jenuhnya CO2 hembusan banyaknya manusia yang berebut sesuap nasi seperti di kota besar.

Di pagi hari yang senyap itu melintas seorang ibu-ibu bersepeda dengan 2 keranjang berisi barang-barang dagangannya, menuju ke pasar Gawok. Pasar tersebut adalah pasar PON – artinya hanya ramai pada hari PON (mengacu ke hari-hari pasaran Jawa, yaitu Pahing – Pon – Wage – Kliwon – Legi).

Jadi pada jaman dahulu pada umumnya pasar di suatu daerah hanya buka atau hanya ramai pada hari pasaran tertentu. Misalnya di daerah A pasar Pon, di daerah lain pasar Wage, sehingga setiap pasar hanya ramai 5 hari sekali.

Hal tersebut sudah banyak bergeser seiring modernisasi, seperti contohnya di banyak tempat Pasar Wage Purwokerto misalnya buka setiap hari. Jadi Wage hanya sekedar nama tanpa arti, hanya sebagai sejarah.

Pasar Pon di Gawok ini rupanya termasuk masih sangat kental nuansa masa lalunya, lengkap dengan berbagai sudut yang menyajikan kekhasan pasar Jawa jaman dulu.

.

Menunggu barang dagangan...

Ada banyak ternak yang diperdagangkan, dari mulai itik / bebek – mentok – angsa – ayam – kambing – domba – dan kadang ada juga yang bawa sapi. Satu yang unik, begitu banyak binatang tapi entah kenapa (kata orang jawa “somehow amazingly”) tidak tercium bau yang tidak sedap. Justru aromanya jadi unik, bercampur dengan hangatnya sinar matahari pagi memberikan aroma kampung yang unik… terus terang agak susah diceritakan, musti dirasakan sendiri deh…

.

Salon Sumber Ganteng

Selain jadi bursa barang, ternyata ada juga yang menawarkan service alias jual layanan di pasar Gawok ini. Bapak tua ini salah satunya, memberikan ke-ganteng-an kepada para pelanggannya di bawah pintu masuk pasar. Tanpa AC, tapi tetap nyaman…

.

Blacksmith

.

Transaksi persenjataan

Selain sebagai pusat transaksi barang dan jasa, rupanya di pasar Gawok juga sebagai sentra alat produksi. Di salah satu los pasar terdapat banyak pandai besi (bahasa jawanya Blacksmith), dan ternyata hasilnya dijual di situ juga. Tuh bisa dilihat ibu-ibu beli arit / clurit dari pak penjual.

.

Biker's corner di pasar Gawok

Menjelang pulang, melewati sudut ujung pasar Gawok menuju jembatan kecil keluar pasar. Berderet jajaran sepeda retro alias pit onthel jadul. Kebanyakan dihuni bapak-bapak, mengelus-elus sepeda antiknya yang mulus. Ah, nikmatnya ngepit onthel menyusuri jalanan pinggir sawah yang bebas polusi melewati barisan bebek yang mencari makan di sawah…

.

Tuntas mengamati transaksi di pasar Gawok, kembali ke masalah hari-hari pasaran tadi. Salah seorang rekan berkata pada saya terkait hal tersebut, orang di Jawa itu hidup secukupnya saja (urip sak madya). Terbukti yang namanya usaha – alias jualan, ya cukup 5 hari sekali saja. Jadi yang namanya keseharian hidup itu bukan untuk bekerja semata.

Dan ternyata hal tersebut masih saya jumpai saat ini. Terbukti yang namanya orang mantu (menikahkan anaknya) itu nggak harus nunggu Sabtu atau Minggu seperti di Jakarta. Bisa saja orang mantu di hari Senin atau Selasa, dan seluruh tetangganya nggak ada yang kerja hari itu bahkan ikut begadang (lek-lekan) sampai pagi.

Entahlah, saya sendiri masih berada dalam posisi nggak jelas antara menjalani urip sak madyo / hidup secukupnya dengan irama lambat – ataukah berpacu menghadapi ketatnya kompetisi antar umat manusia seperti yang di teori Mbah Charles Darwin “The Origin of Species”.

.

catatan: pasar Gawok ini berlokasi sekitar 5 km dari Solo baru, sebenarnya masuk ke Kabupaten Sukoharjo.

Salam damai…