Tag

, , , , ,

Kehidupan itu penuh misteri… begitu kata banyak orang (kata saya juga).

Anak saya Sekarlangit kemarin memasuki hari ke-5 demam, dengan kisaran suhu tubuh 37 – 38 derajat Celcius. Sambil menunggu hasil lab, dia bertanya “KENAPA YA DIBUAT RASA SAKIT?”.  Saya jelaskan dari 2 sisi – sisi ilmiah atau biologis dan sisi non ilmiah atau perasaan.

Pertama, dari sisi biologis rasa sakit itu diciptakan sebagai alarm untuk kelangsungan hidup manusia atau hewan. Coba kalau kita tidak punya rasa sakit, sampai berdarah-darahpun tidak sakit bisa-bisa nanti langsung tamat riwayat kita tanpa ada alarm atau peringatan.

Kedua, dari sisi perasaan rasa sakit itu diciptakan agar kita lebih mensyukuri keberadaan kita waktu sehat. Kadangkala kita lupa, bahwa tanpa embel-embal apapun kita seharusnya mensyukuri keadaan kita apa adanya… “hanya” cukup sehat saja.

Untuk penjelasan yang kedua, saya sendiri nggak terlalu berharap anak saya bisa memahami sepenuhnya. Tapi nggak papalah, paling tidak sedikit demi sedikit saya sudah menabur benih rasa syukur di hatinya. Bukan syukur yang kondisional, tapi syukur yang apa adanya. Bukan rasa syukur yang tercipta oleh keberlimpahan materi…

Ngomong tentang rasa syukur, jadi ingat kemarin ada quote yang saya rasa sangat menarik untuk kita renungkan (dari Rm. Sudriyanto). Bunyinya kira-kira begini:

“Dengan mengajari anak anda untuk siap miskin, maka anda sudah mempersiapkannya untuk menjadi kaya”

  • Sekolah Bilingual… SBI… Sekolah National Plus… Sekolah Unggulan…
  • Kumon… Jarimatika… Bimbel ini dan itu… terus yang lagi nge-trend semacam Analisa Jari Tangan dan Pelatihan Otak Tengah…
  • Les piano… les tari… les gitar… olah vokal…
  • Latihan kewirausahaan… latihan kreativitas… latihan komputer…
  • Liburan ke Bali… liburah ke luar negeri… menginap di hotel berbintang…
  • Mobil kinclong, yang dingin-dingin empuk, kalau ditutup bunyinya mak beup… di dalam sunyi senyap, TV di head rest lengkap dengan konektor Playstation…
  • Kamar tidur yang (juga) dingin-dingin empuk, baju tinggal pilih di lemari… semuanya rapi dan wangi…
  • Makanan siap terhidang di meja dengan berbagai pilihan, pun bila masih kurang sesuai selera tinggal telepon layanan delivery…

Sama sekali tidak ada yang salah dengan semua hal tersebut di atas. Tetapi di antara itu semua, sudah terselipkah persiapan mental untuk siap menjadi MISKIN? Saya serasa diingatkan lagi, untuk menyeimbangkan amunisi yang saya persiapkan untuk bekal kehidupan anak saya di jamannya nanti… Ketika segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang direncanakan dan diharapkan, di situlah diuji kedewasaan seseorang nantinya.

Sekar - Lintang - Ganesha

Namanya orang punya rencana / keinginan, bebas-bebas aja dong… Kalau bisa sih anak saya ada yang bisa mengecap kampus Ganesha, makanya sudah dikenalin dari kecil. He he he… Tetapi seandainya misteri kehidupan mengarahkannya ke tempat lain, ya paling tidak semoga mereka sudah siap dengan itu semua.

Menjadi miskin dengan penuh rasa syukur adalah jauh lebih mulia daripada yang kaya dengan menghalalkan segala cara.

.

Nah, tadi kan pertanyaan pertama sudah terjawab yaitu kenapa diciptakan rasa sakit.

Ternyata dari situ muncul pertanyaan lanjutan, pertanyaan kedua “KALAU BEGITU, UNTUK APA SIH MANUSIA DICIPTAKAN KALAU UNTUK MERASAKAN SAKIT?”.

Wah, yang ini agak panjang menjelaskannya. Apalagi bapaknya sendiri belum 100% punya jawaban untuk itu.

Ya itulah misteri kehidupan…

Mengajari anak untuk siap menjadi miskin, kira-kira seperti pepatah leluhur – PREPARE FOR THE BEST, READY FOR THE WORST. Bagaimana caranya? Mari sama=sama belajar dan berbagi…

Salam damai…