Tag

, , , , , , ,

Tivoli Hotel - Delhi

.

Mencoba mengingat lagi, kenangan beberapa tahun lalu waktu melawat ke negeri yang menjadi salah satu kiblat kebudayaan masa lampau dan banyak menginspirasi bangsa lain seperti Indonesia yaitu INDIA.

Melalui gambar, saya mau bernostalgia. Karena katanya “picture paints a thousand words”

Bermula dari front door hotel, yang kesan pertama ketika saya pertama kali datang adalah: Berdebu. Dan ketika saya pulang, kesan saya adalah: Memang berdebu… Delhi memang kota yang dianugerahi banyak debu (tidak semua daerah Delhi tentunya).

Keramahtamahan India bisa dikatakan sekian tingkat di bawah Indonesia, paling tidak itu yang tercermin di hotelnya. Bukan berarti orangnya galak, tapi paling tidak kalau di Indonesia yang namanya senyum itu murah… kalau di India agak mahal tuh yang namanya senyum. Jadi kalau orang bilang bangsa Indonesia itu ramah dan murah senyum, itu ada benarnya. Jadi mari kita tersenyum, toh itu nggak bayar…🙂

.

.

Mobil tua di Delhi

.

Mobi-mobil di kota Delhi secara umum berusia tua. Untuk contohnya bisa dilihat di foto ini.

Uniknya, kalau untuk usia boleh jadi tua. Tetapi hebatnya, nggak ada tuh yang knalpotnya ngebul seperti di negeri kita ini.  Uniknya lagi, waktu melewati daerah pusat pemerintahan alias kantor parlemen atau apalah gitu… ternyata mobil-mobil dinasnya juga mobil lama seperti yang di atas itu. Beda jauh dengan mobil pejabat kita yang baru – gres – kinclong – kinyis kinyis.

Jadi maaf, kalau masalah senyum kita boleh menang tapi untuk urusan mobil permobilan Indonesia masih harus berkaca pada India.

.

.

.

Di sebuah perempatan di Delhi

.

Foto ini saya ambil dari dalam mobil di sebuah perempatan. Saya sendiri nggak tahu persis kejadiannya bagaimana, tetapi sepertinya mereka lagi berdebat karena entah itu serempetan atau apa.

Kata orang, kalau mau tahu apakah sebuah bangsa berbudaya atau tidak maka lihatlah perilaku mereka di jalanan.

Kondisi jalanan di India nggak beda jauh dengan di Indonesia: Semrawut. Untuk urusan macet, bolehlah Indonesia menang. Arti menang di sini adalah lebih macet. Kemacetan di sana masih berkisar di sekitaran lampu merah saja. Hanya saja para pengemudi di India ini sangat hobi memencet klakson. Nah kalau di Indonesia di jalanan saling serobot, main terobos lampu merah, motor melawan arah, barangkali mencerminkan budayanya ya? Sementara itu, kalau hobi main klakson, mencerminkan budaya apa ya? Barangkali budaya suka dengan bunyi-bunyian, tidak heran film Bollywood isinya penuh dengan nyanyian. Nggak nyambung ya, he he he…

.

.

.

Warung Pojok - Delhi

.

Suasana di sebuah warung pojok di Delhi. Nyata sekali bahwa orang India (paling tidak Delhi) sangat suka dengan warna mencolok. Entah apa yang mendasari hal itu ya…

.

.

.

Qutb Minar - Delhi

.

Di atas tadi saya tulis Delhi itu berdebu, tapi kemudian saya koreksi “tidak semua Delhi”. Nah ini contohnya, salah satu kompleks bersejarah di Delhi yaitu Qutb Minar. Begitu masuk ke sebuah situs sejarah atau wisata, hilanglah semua kesan akan Delhi / India yang berdebu. Tersaji di depan kita hamparan rumput hijau khas negara koloni Inggris. Seperti bumi dan langit bedanya antara kondisi di dalam dan di luar kompleks.

Pernah saya lihat di BBC Knowledge tentang bagaimana bangunan di India sangat memperhatikan masalah drainase. Kalau saya lihat memang ada benarnya juga, coba saja di antara padang berdebu bisa jadi kompleks rumput hijau begitu. Sistem drainasenya sudah disiapkan dengan sangat matang. Barangkali kita harus belajar ke sana nih untuk masalah merawat situs situs sejarah kita.

.

.

.

Di depan gedung Parlemen

.

Tuh kelihatan kan mobil-mobil pejabat eselon lagi pada parkir, silakah diamati mobilnya seperti apa.

Selama ini kita kenal ibukota India itu New Delhi, sementara dari tadi saya selalu sebut “Delhi” dan bukan “New Delhi”. Saya sendiri baru tahu waktu ke sana (norak ya?) bahwa Delhi itu ada New Delhi dan Old Dehli. Old Dehli itu kota lama yang lebih crowded. New Delhi bisa dikatakan sedikit lebih teratur karena baru. Adapun pusat pemerintahannya ada di New Delhi, areanya cukup luas.

.

Banyak hal yang patut kita banggakan kalau dibandingkan saudara tua kita ini. Salah satunya adalah MAL. Untuk urusan MAL, bisa dibilang mereka masih TK dan kita sudah SMA deh. Mal-nya jauh banget dibanding di sini baik itu dari sisi kemewahannya maupun besarnya.

Akan tetapi di banyak hal juga kita bisa belajar dari mereka…

Salam damai…