Tag

, , , , , , , , , ,

@ Warung Ijo - Pakem Jogjakarta Hadiningrat
@ Warung Ijo – Pakem Jogjakarta Hadiningrat

 .

Pagi itu, 28 Desember 2010 pukul 6:30 pagi… udara di sekitar kawasan Pakem (KM. 17 dari Jogjakarta) masih sejuk hawa pegunungan. Di Warung Ijo, salah satu tempat meeting point bikers di Jogja saya dan beberapa rekan bersiap-siap mendaki menuju Merapi. Ini perjalanan pertama saya di kawasan ini, dipandu salah satu sahabat lama saya – kawan sekelas semasa SMA yang selama 18 tahun ya baru ketemu lagi sekarang ini… Tidak ada yang berubah darinya, kecuali tambahan kumis dan kematangan tentunya🙂

.

@ Warung Ijo - Pakem, bersama Mr. Pujo Priyono
@ Warung Ijo – Pakem, bersama Mr. Pujo Priyono

 .

Di bawah bimbingan sahabat lama, yakinlah saya mulai menggenjot sepeda saya start dari Warung Ijo menuju Merapi. Finishnya sampai mana saya sendiri belum tahu, pokoknya ngikut aja. “Surga nunut neraka katut”…

Start berawal sekitar jam 7 pagi kurang sedikit waktu Ngayogjakarta Hadiningrat. Beruntung walaupun masih suasana liburan, tapi kami mengambil bukan hari Minggu sehingga jalanan aspal tidak terlalu ramai kendaraan. Tidak lama menapaki jalan aspal, kamipun segera rubah haluan menuju jalan berumput dan berbatu… Babat Alas, alias membabat hutan. Perjuanganpun dimulai…

Dibuka dengan trek rumput + tanah disertai pemandangan sawah, wah nggak kalah deh sama Ubud. Pelan-pelan, kok lama kelamaan perlahan namun pasti tanjakannya nggak berhenti-berhenti. Setelah sekitar 30 menit lemak di betis dan paha terbakar, sampailah di bendungan.

Di titik ini masih tergolong lokasi bawah, sehingga relatif pohon-pohon masih tidak terganggu erupsi Merapi yang lalu… tetapi sisa-sisa gelontoran lahar dingin sudah mulai terlihat bekasnya di sungai ini. Nyata terlihat debit yang sangat besar pernah “membasuh” kawasan ini.

.

Merapi
Di antara sisa lahar dingin MERAPI

.

10 menit di situ, mengistirahatkan otot betis – mendinginkan otot paha – mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk kemudian kembali menelusuri jalan terjal mendaki menuju Merapi. Dari jembatan tersebut langsung dihadapkan pada jalanan beton menanjak curam, memaksa gigi paling kecil saya gunakan.

Sekitar 15 menit dari situ, kami menyusuri kawasan desa wisata dan perkebunan Salak Pondoh. Setelah sempat diberi 2 bongkah salak pondoh dari petani lokal, kamipun beranjak gowes lagi. Salak Pondoh yang baru dipetik dari pohonnya, wah muanis buanget rasanya… Barangkali inilah salak pondoh paling enak yang pernah saya makan. Matur nuwun pak petani salak pondoh, beliau mau saya foto sudah keburu masuk kebon lagi…

1 jam kemudian kamipun sampai di Kalikuning, sebuah jembatan yang cukup tinggi terbentang di atas sungai Kalikuning. Dari atas jembatan yang sudah compang-camping itu nyata benar kerusakan yang diakibatkan amukan sang Merapi di kawasan itu.

.

Merapi Kalikuning
@ Jembatan Kalikuning yang porak poranda – Merapi

.

Saya membayangkan kekuatan arus lahar dingin yang menerjang sungai ini tentunya dahsyat sekali sehingga bisa menidurkan pepohonan perkasa, membengkokkan besi-besi yang kuat di jembatan ini. Merinding membayangkannya…

Lepas dari rasa merinding itu, paling tidak di jembatan tersebut sepeda saya bisa beristirahat sejenak…

.

Polygon Xtrada @ Kalikuning Merapi
Xtrada istirahat dulu di Kalikuning – Merapi

.

Sudah cukup istirahat buat betis paha dengkul dan sepeda saya, kamipun beranjak naik lagi.

Perjalanan 1 km ke depan ini menghamparkan pemandangan akan reruntuhan rumah-rumah tak berpenghuni di atas dataran penuh debu. Sempat beberapa menit saya terhenti di depan sebuah rumah sambil menanti rombongan yang masih tercecer di belakang. Di hadapan saya ada sebuah rumah yang pintu dan jendelanya entah sudah raib ke mana. Debu memenuhi rumah itu, dan terlihat di ruang tengahnya masih tergeletak teko, gelas dan piring di meja makan… layaknya sebuah rumah yang masih dihuni. Ah, tidak terbayangkan kondisi yang ada pada saat kejadian erupsi yang lalu… begitu tiba-tiba datangnya tanpa bisa kita lawan sedikitpun. Sayang kondisi fisik saya saat ini sudah tinggal sepersepuluh nyawa, segala daya imajinasi memotret sudah hilang… Energi hanya tersisa untuk betis, dengkul dan paha saja…🙂

Setelah 1 km yang begitu menyayat hati, sampailah saya di kaki dusun Kinahrejo – dusunnya Mbah Maridjan

Kalau sebelumnya pemandangan yang ada terasa menyayat hati, maka di sini pemandangannya begitu menakjubkan. Di sinilah saya kembali ditakjubkan oleh kekuatan alam (dan Sang Penguasa Alam).

.

Dusun Kinahrejo - Merapi
@ Dusun Kinahrejo – Merapi

.

Di kawasan ini begitu nyata terpampang hutan yang habis tersapu awan panas dan materi dari dalam perut bumi. Tidak ada satu pohonpun yang dibiarkan berdiri, tidak ada satu bangunanpun yang sanggup bertahan berdiri. Semuanya… dan benar-benar semuanya… dibabat habis, diluluhlantakkan, dan dikubur habis dengan abu Merapi.

Begitu besar dinyatakan kekuatanNya pada saya, sehingga segala kesedihan akan derita saudara-saudara kita serasa kalah oleh rasa takjub saya oleh kebesaran kuasaNya.

Sampai di dusun Kinahrejo – dusunnya Mbah Maridjan ini saya kembali diingatkan akan betapa kecilnya kita manusia di hadapan sang alam dan Sang Penguasa Alam. Ketika kita ingat betapa kecilnya kita, mudah-mudahan kita bisa sedikit dihindarkan akan rasa sombong dan tindakan-tindakan yang merugikan sesama akibat kesombongan kita.

Dusun Kinahrejo, terima kasih atas pelajaran yang berharga ini…

Mbah Maridjan, beristirahatlah dengan tenang Mbah… tugasmu sudah selesai.

GUSTI NYUWUN KAWELASAN…

(TUHAN KASIHANILAH KAMI…)

.

.

.

Rumah Mbah Maridjan - Kinahrejo Merapi
@ bekas rumah Mbah Maridjan – Kinahrejo…

.

Salam damai…