Tag

, , , ,

…betapa damainya…

Foto di atas saya ambil di Kuta Bali pertengahan tahun lalu, di sebuah pagi yang cerah. Saya harap turis tersebut tidak keberatan fotonya saya ambil, karena saya nggak sempat minta ijin wong dia tidur terus…

Saya tidak tahu persisnya, tetapi saya yakin bahwa Ms. Tourist tersebut sudah menghabiskan sekian ribu dollar untuk datang jauh-jauh ke Bali dan tidur dengan sangat nyamannya di pagi hari yang indah tersebut… diiringi deburan ombak dan semilir angin khas suasana tropikal.

Sekarang coba kita tanyakan pada sang penduduk lokal, barangkali tidak ada hal yang spesial dari paduan pasir putih + angin semilir + deburan ombak pantai Kuta. Dari dia lahirpun sudah begitu, apanya yang mau dinikmati? Kalau ditawari bermain salju sambil main ski barangkali baru membuatnya semangat.

.

… menikmati pantai …

Berdiri dengan kaki terendam air laut dan telapak kaki kita terbenam di pasir… menikmati arus balik yang seakan menyeret kaki kita dan menyedot kaki kita masuk ke pasir sambil diterpa hangatnya sinar matahari. Barangkali hal tersebut sudah beratus kali saya lakukan dari mulai saya kecil, karena saya tinggal hanya beberapa kilometer dari pantai.

Saya jadi ingat pembicaraan saya dengan beberapa rekan kerja waktu saya berada di suatu negeri di mana untuk mencapai pantai terdekat berjarak lebih dari 1000 km. Betapa pantai adalah sebuah kemewahan tersendiri, dan dia sempat berujar bahwa Bali adalah surga.

.

… di sawah Jatiluwih …

Kalau tadi kita ngomong pantai, sekarang kita ngomong sawah.

Yang namanya sawah, dari saya belajar jalan sudah keluar masuk sawah. Tapi karena belasan tahun terakhir saya sudah tidak lagi keluar masuk sawah – tetapi keluar masuk aspal – maka pemandangan sawah jadi nostalgia tersendiri buat saya. Apalagi buat orang yang nggak pernah lihat sawah, wah ini sampai jadi obyek turisme yang lagi hot di Jatiluwih – Bali.

.

Seringkali kita lupa, karena sudah terbiasa akan suatu kenikmatan sehingga tidak lagi merasakan itu sebagai suatu kenikmatan. Lebih daripada itu, justru kita selalu melihat kenikmatan-kenikmatan lain di luar kita hanya karena belum pernah atau jarang kita rasakan. Termasuk saat ini nih, saya lagi bingung mau liburan ke Ubud (lagi) – atau ke Phuket/Bangkok (karena belum pernah).

Saya jadi ingat pas saya antri lampu merah, di sebelah mobil saya ada sepasang suami istri (sepertinya sih suami istri, saya nggak nanya) boncengan naik motor. Demi mengurangi penatnya sang suami nyetir motor, sang istripun mijit pundak sang suami sambil nunggu lampu merah berubah jadi hijau. Aduh benar-benar romantisme di tengah kepulan asap knalpot perempatan Matraman – Pramuka. Wah, betapa masih banyak cara menikmati hal-hal yang kadang terasa sangat biasa atau bahkan menyebalkan….

Kalau lagi ingat yang beginian, jadi malu rasanya untuk mengeluh.

Salam damai…