Tag

, , , , , , , , ,

Kepala Kambing, siap diramu...

 

Malam kian kelam, berjalan ke ujung hari…

Perut mulai keroncongan, masih menunggu salah satu kawan yang masih dalam pesawat dari Jakarta ke Jogjakarta – delay karena cuaca buruk.

Jam 7 malam, berkumpullah sudah kami semua dan disepakati akan menyantap SATE KLATHAK – PAK BARI, Pasar Imogiri Jogjakarta.

Pasar Imogiri terletak di selatan Jogjakarta, tepatnya sekitar 4,5 km dari ring road selatan menuju ke arah pemakaman raja-raja di Imogiri. Pasarnya sendiri tepat terletak di perempatan, dan sepanjang jalan dekat perempatan banyak penjual Sate Klathak. Salah satunya adalah di Bu Jazim yang pernah saya cicipi kenikmatannya di Wisata Rasa Jogja sebelumnya.

Menu utama di warung Pak Bari adalah tentu saja Sate Klathak itu sendiri.

Sate Klathak Pak Bari - Pasar Imogiri Jogjakarta

Yang spesial dari sate klathak ini adalah kesederhanaan rasanya. Hanya mengandalkan garam dan kesegaran dagingnya, tersajilah lembutnya sate yang empuk dengan aroma kambing yang lembut dan rasa original dari daging segar hanya ditambah garam secukupnya. Sungguh mak nyus… Nggak banyak aneh-aneh, justru itu yang menjadikannya sempurna.

Kenikmatan menyantap sate yang mak nyus tersebut ditambah lagi dengan menyeruput perasan jeruk nipis panas, ditambah gula batu. Gula batu di sini agak unik karena warnanya yang agak kekuningan, manisnya pas banget dengan segarnya jeruk nipis.

ada seonggok kepala kambing nganggur...

Dimasak masih pakai anglo membuat para pengunjung harus agak sabar menunggu, walaupun nggak lama-lama amat sih nunggunya. Sambil nunggu, eh ada 1/2 kepala kambing yang masih nganggur. Langsung deh saya minta buat digule saja kepala kambing itu… daripada gule jeroan malah tinggi banget kadar kolesterolnya, yah kepala kambing masih agak mendingan lah, he he he…

Sekitar 10 menit kemudian, tersajilah Gule Kepala Kambing tersebut…

Gule Kepala Kambing - Pak Bari Imogiri Jogjakarta

Gulenya bukan model gule pedas, tapi lebih ke gule yang ringan – agak mengarah ke tengkleng walaupun masih bersantan. Rasanya gurih, apalagi pas “nyeplus” matanya… gurih banget, mak nyus… lagi-lagi mak nyus…

Tongseng di warung inipun unik, rasanya cenderung manis seperti semur. Sangat layak dicoba, terutama buat yang pecinta manis.

Rasanya malam itu tidak sia-sia jauh-jauh ke Imogiri demi merasakan langsung 2 makanan mak nyus yang sesaat menghantarkan saya ke surga dunia…🙂

Demi surga dunia tersebut, besoknya saya harus nggowes ke arah Kaliurang demi membakar kolesterol yang menjadi prasyarat dari surga itu…

Salam damai…