Tag

, , , , , , , , , , , ,

Pedal (Penggemar Sepeda Lintasarta)

Test Endurance di trek Cidampit Serang (bagian 2)

Rumah Hutan - Cidampit

.

Menyambung liputan sebelumnya (WISATA RODA: Test Endurance di trek CIDAMPIT 01), ini dia sambungannya… siksaan yang nikmat tahap kedua.

Jam 12 siang di bawah rintik hujan yang terasa asin kamipun sampai di Rumah Hutan. Ya benar, salah satu keajaiban dunia yang ada di trek Cidampit adalah air hujan yang rasanya asin. Adapun rasa asin itu bukan karena kandungan garam dari air hujan ataupun udara, tapi karena sudah bercampur dengan keringat para gowes-ers sekalian. Jadi hujan asin hanya dapat dirasakan oleh para goweser yang sudah dihajar siksaan nikmat trek Cidampit.

Di antara dinginnya hujan yang turun, keringat mengucur deras mengiringi perut yang mulai keroncongan setelah kalori habis terbakar dari mulai hutan karet, kocokan naik turun aspal tanah, dan single track hutan berlumpur.

Menanti dengan indahnya di salah satu pondok Rumah Hutan: MAKAN SIANG!!!!

Sop Ikan + Sambal + Lalap + Krupuk

.

SOP IKAN yang hangat dan segar, dan berprotein…

SAMBAL yang pedas tapi nikmat…

LALAPAN yang penuh nutrisi dan serat…

KRUPUK, yang ini sih nggak ada nutrisinya… tapi enak🙂

Sehabis makan kenyang, boleh pilih deh mau teh manis panas atau sebutir kelapa muda. Sebenarnya nggak harus milih sih, ambil dua-duanya juga boleh…

Cerita sedikit tentang Rumah Hutan ini, bagus juga pesan-pesan yang disampaikan oleh Rumah Hutan ini. Serta bagaimana modus pengelolaannya yang diserahkan penuh kepada penduduk setempat. Bahkan sang empunya tanah juga kalau mau mampir ke situ dan makan, harus bayar kepada sang pengelola. Good Community Management!!!

Berikut ini salah dua pesan-pesan Rumah Hutan (nggak saya resize supaya terbaca kandungan tulisannya):

Rumah Hutan - DOA ANAK CUCU

.

Rumah Hutan - TUHAN TIDAK BISA MERUBAH

 .

Bagus-bagus ya, pesan dan semangatnya….

Nah, sekitar jam 1 – setelah 1 jam mengisi perut dengan nasi sop dll – mengisi hati dengan pesan-pesan Rumah Hutan – dan mengisi betis dengan pendingin siap untuk dibakar lagi untuk trek Cidampit tahap 2 (end game).

Beberapa personil PEDAL di Rumah Hutan

.

Lepas dari Rumah Hutan, disambut dengan single track dan nyebrang sawah. Tak lupa melewati “gua” saluran air menembus bukit cadas, diikuti single track panjang di dalam hutan di bawah hujan yang masih belum mau berhenti juga.

Serasa masih kurang siksaan dan handicap yang ada, di salah satu turunan yang berujung belokan patah – Xtrada nyungsep ke semak-semak. Heran juga, padahal turunannya bukan yang super curam dan belokannya juga nggak sadis-sadis amat. Ternyata – REM DEPAN BLONG… Hu hu hu…

Jadi deh sepanjang beberapa km single track ke depan ketika yang lain asyik menikmati turunan, saya dan Xtrada malah musti ambil jarak jauh-jauh dan ngerem dengan metode cicilan ringan tanpa agunan supaya nggak nyusruk lagi. Nasib… nasib…

Setelah turunan panjang yang sebenarnya nikmat tapi kala itu bagi saya nggak ada nikmat-nikmatnya sama sekali, sampailah di Sungai. Ajang buat cuci dan bersihkan FD/RD sekalian basah-basahan.

Rombongan 1 di Sungai

.

Wah segarnya… ketemu air berlimpah setelah sebelumnya lumpur menutupi sebagian besar bodi dan equipment sepeda. Cuci-cuci, ciprat-ciprat… biar bersih lagi. Jadi sempat pose dulu…🙂

Menunggu antrian masuk sungai...

.

Bersama istri, Mr. Iwan Rizal, Mr. Setyo, dan Mr. Ivan – kami masuk di Rombongan 1 di Sungai untuk selanjutnya kembali nggowes lagi.

Selepas sungai, ternyata bukan trek gowes yang dihadapi melainkan trek angkat berat. Kemiringan hampir 45 derajat dengan permukaan batu cadas dan lumpur mau tidak mau membuat kami semua harus angkat sepeda. Nggak cukup sendirian, di beberapa titik harus estafet oper-oper sepeda. Wah, sekitar 15 menit di sini energi benar-benar habis terkuras. Gila!!!

Maaf, di episode ini tidak ada foto memfoto. Boro-boro mau foto, buat berdiri saja licin banget belum lagi bawa sepeda. Lagi-lagi, siksaan yang nikmat… he he he…

Memasuki aspal dari sini adalah terasa seperti surga. Begitu enteng sepeda digenjot, dan odometerpun mengalir lancar. Kalau waktu di hutan untuk nambah 500 meter saja lama banget, di aspal sini kilometer demi kilometer berlalu dengan indahnya.

Sampai di suatu tempat bernama BENOA (kalau nggak salah inget), ketemu DUREN!!! Bukan Duda Keren, tapi Duren beneran…

Duren-Duren...

.

Masih di Rombongan 1 bersama istri, Mr. Iwan Rizal, Mr. Setyo dan Mr. Ivan – pilih-pilih dan belah-belah duren deh sambil menunggu rombongan lain menyusul.

Dan ini dia rombongan besar selanjutnya… lelah namun ceria, disiksa namun menikmati hingga puas… Great job, Team PEDAL!!!

PEDAL - Rombongan Sapu Jagad

 .

Setelah warung Duren, relatif jalanan hanyalah tinggal aspal yang mayoritas landai menurun. Sekitar 5-6 kilometer jalanan aspal, tibalah di Pendopo Gubernuran Banten. Tercatat waktu menunjukkan jam 5:30 sore. Jadi selesailah sudah 8 jam 15 menit siksaan yang super nikmat di Trek Cidampit – Banten.

Melibas jarak yang sebenarnya nggak jauh-jauh amat, 39 km saja. Tapi medannya memang cukup menantang, sehingga untuk melahap 39 km butuh hampir 7 jam.

Rute Trek Cidampit

.

Dengan ketinggian maksimal sempat 300 meteran, hingga akhir-akhir yang menurun…

Data Trek Cidampit

.

Hari itu diakhiri dengan Wedang Jahe khas Banten yang sungguh nikmat, mirip Wedang Oewoeh Wonogiri-nya Kopi Tiam Oey Pak Bondan.

Sruput… ahhhh…. nikmaaatttt…..

Salam damai.

(photos are courtesy of Mr. Jati Santosa, Mr. Primarta, Mr. Iwan Rizal, Mr. Setyo and me)