Tag

, , , , ,

Sate Kambing - Haji Kadir

 .

Sepiring sate kambing isi 20 tusuk – daging tanpa lemak campur sate hati. Panas “ngebul-ngebul”, benar-benar mantap dan pas disantap di tengah dinginnya udara malam di daerah Cisarua – Puncak. Dengan bumbu kecap + bawang + cabai, dengan aroma kambing yang masih lembut tersirat di setiap irisannya… hmmm… wanginya bikin perut makin berorkestra. Buat yang suka bumbu kacang, disediakan juga. Saya sendiri sih lebih senang bumbu kecap bawang cabai saja.

MAK NYUSSS….

Sate Pak Haji Kadir - Cisarua Puncak

.

Nah, disinilah kami malam itu makan – Warung Sate Pak Haji Kadir.

Dari bermula di warung ini, kini sudah dibuka beberapa cabang Sate Haji Kadir ini. Salah satunya yang paling besar tidak jauh dari warung aslinya ini, di Cisarua dekat pasar – depan Hotel Safari Garden.

Yang makan kebanyakan ya orang Jakarta yang lagi pada nginap di kawasan Puncak.

.

Kadang kita seringkali jauh-jauh pergi ke suatu tempat hanya untuk beli makanan yang terkenal mak nyus di tempat tersebut. Tren ini menggejala mulai kira-kira 5 tahun ke belakang. Yang namanya hari Sabtu – Minggu, di tempat-tempat yang jualan dagangan mak nyus pastilah berderet mobil-mobil sampai bikin macet. Salah satu pemicu yang mahadahsyat dari tren ini adalah acara kuliner yang ada di TV. Dari mulai yang “mak nyus”, “juara”, sampai yang “mantap kali, yuuuukkk…” Begitu satu tempat naik tayang di acara kuliner, dijamin nggak lama kemudian langsung diserbu orang dari berbagai penjuru daerah.

Saya berpikir, apa nggak ada makanan enak lain ya di tempat orang-orang itu tinggal?

Bakso Pak Giyo - Duren Sawit

.

Saya yakin, nggak ada yang kenal dengan Bakso ini – Bakso Pak Giyo.

Bakso ini keliling di kampung saya di Duren Sawit. Pernah suatu kali ada hajatan kecil di rumah, kami tampilkan Bakso Pak Giyo ini jadi salah satu menu andalan di hajatan tersebut. Ternyata banyak di antara tamu yang bilang bakso ini uenak… Adapun kalau saya sendiri nggak gitu-gitu amat sama yang namanya bakso. Tapi buat sayapun bakso ini enak rasanya.

.

Saya bukannya anti lho ya dengan wisata kuliner, bahkan saya suka sekali dengan wisata kuliner. Tapi yang namanya wisata kuliner tidak berarti harus puluhan kilometer dari rumah kan? Bolehlah sekali-sekali kalau memang ada kesempatan ke suatu tempat, mampir ke sumber mak nyus setempat.

Kadangkala ya namanya manusia, apa yang di kejauhan selalu nampak lebih indah dan lebih nikmat. Kita jauh-jauh buang tenaga, waktu, bensin, dan duit untuk cari makanan di antah berantah sementara banyak juga makanan di sekitar kita yang sebenarnya nggak kalah enaknya.

Mbok yao… daripada nyebar asap knalpot dan nambah kemacetan di mana-mana, yuk mulai mencoba WISATA KULINER SEPELEMPARAN BATU…🙂

Salam damai.