Tag

, , , , ,

Kekuasaan seorang Janitor

 Tempelan kertas pengumuman di gambar di atas itu saya ambil di sebuah pantry salah satu kantor. Kenapa saya potret? Soalnya cukup menarik perhatian lho pernyataan yang tertulis di situ… Seorang Janitor (lepas dari siapa orangnya), seringkali dinomorsekiankan oleh kita-kita para karyawan (staf, supervisor, manager, sampai direksi atau komisaris). Keberadaannya sering dianggap nyaris tidak ada, ataupun kalaupun ada hanyalah sebagai salah satu dari sekian perangkat perkantoran.

Tapi dalam selembar kertas tersebut nyata benar “kekuasaan” seorang janitor di wilayah yang menjadi tanggungjawabnya.

Saya yakin, pengumuman tersebut bukan bentuk dari sebuah ke”nyolot”an (nyolot itu apa ya bahasa Indonesia bakunya… songong? bukan bahasa Indonesia baku juga… mirip kurang ajar kali ya artinya). Kalau pakai bahasa para infotainment:

Alih-alih nyolot, secarik kertas lusuh itu merupakan bukti otentik adanya dedikasi seorang janitor dalam menjaga apa yang menjadi tanggungjawab pekerjaannya.

Salut buat janitor yang satu ini… seperti lagu Whitney Houston “The Greatest Love of All”:

No matter what they take from me
They can’t take away my dignity

.

.

Khusus pengantar film

Kalau tadi dari sisi sang “buruh”, sekarang dari sisi “manajemen”.

Gambar di atas itu saya ambil di Taman Ismail Marzuki. Dari secuplik foto itu, saya membayangkan penghargaan kepada fungsi dan martabat dari seorang pengantar film – seseorang yang hampir tidak pernah kita lihat tapi tanpanya kita dijamin 100% bakal batal nonton film. Di parkiran TIM ini tidak ada parkir khusus untuk manager bioskop, tapi justru di halaman paling VIP bertengger tanda “Khusus motor pengantar film”. Sangat spesifik, bukan untuk mobil Mercedes-Benz atau Jaguar – tapi khusus motor pengantar film.

Great appreciation for XXI Taman Ismail Marzuki. Because a company is nothing but the people inside it.

.

.

.

Lebih baik dipecut daripada dipecat

Nah kalau gambar yang ini saya ambil di Joger – Kuta Bali, dan saya yakin 100% bahwa maksudnya adalah buat lucu-lucuan. Lebih lucunya lagi, “at some point” ada kebenaran yang pahit di dalam kalimat lucu-lucuan itu.

Nggak usah saya tulis panjang lebar, barangkali banyak dari kita yang kadang mengalami pecutan-pecutan di dalam pekerjaan.

Buat yang merasa dipecut, ya memang dipecut masih sedikit lebih baik daripada dipecat.

Nah buat yang merasa punya amanah memecut, coba dipikir-pikir lagi deh… apakah masih mau menganggap karyawan Anda sebagai kerbau, ataukah sesama manusia? Lepas dari posisi demand and supply dan sebagainya… bahwa kalau si A nggak mau dipecut, masih ada B, C, D yang nganggur yang rela dipecut demi nafkah harian keluarganya. Tapi apa iya harus begitu cerita kehidupan kita sebagai manusia di dunia?

Mari “memanusiakan” karyawan, karena kita semua manusia…

Salam damai…