Tag

, , ,

Wisata Jiwa dari Gunung Bromo

.

.

Pagi itu, 4 November 2012 saya menyusuri luasnya padang / lautan pasir di dataran tinggi Bromo – Probolinggo. Kawasan itu dikenal sebagai PASIR BERBISIK, dilambungkan namanya berkat film Pasir Berbisik (dibintangi Christine Hakim dan Dian Sastrowardoyo) di tahun 2001.

Berada di kawasan itu, lepas segala kepenatan dan kesibukan dunia kerja. Dan di antara luasnya lautan pasir, pandangan tertumbuk ke sejumput warung kecil yang menawarkan minuman dan makanan ringan. Kita sebut saja Warung PASIR BERBISIK.

Warung PASIR BERBISIK - Bromo

.

.

Saya pesan segelas teh manis hangat, untuk menghangatkan badan di dinginnya pagi hari di Bromo. Nothing special about the tea… hanya teh celup + air panas + gula. Dari sisi rasa pastinya jauh dari teh Nasgitel (Panas Sepet Legi Kentel), apalagi Wasgitel (Wangi Panas Sepet Legi Kentel). Tapi bukan rasa di lidah yang menohok, melainkan ketenangan sang Ibu Warung yang terasa.

Sebagai gambaran, inilah lokasi Warung PASIR BERBISIK….

Pandangan sisi kanan, luas dan kosong melompong:

Warung PASIR BERBISIK - Bromo

.

.

Pandangan sisi kiri, nggak kalah kosong melompongnya:

Warung PASIR BERBISIK - BromoWarung PASIR BERBISIK – Bromo (memandang ke kiri)

.

.

Warung ini ibarat oase di tengah padang pasir, terpencil dari mana-mana. Bisa dibayangkan kalau nggak ada pengunjung, betapa sepinya.

Obrol punya obrol, sang ibu penjaga warung ini berasal dari desa Ngadirejo. Jangan dibayangkan beliau datang pakai motor, apalagi mobil. Beliau datang dan pulang dengan berjalan kaki dari desa asalnya di balik bukit.

Mau tahu jalur yang dilewatinya? Beliau lewat jalur pendakian zig zag di bawah ini. Bisa dibayangkan perjuangan si Ibu naik turun jalur zig zag itu setiap harinya.

Jalur pendakian Ngadirejo - BROMO

.

.

Keseharian sang Ibu penjaga Warung ini hanya ditemani si Gotri. Ini lho yang namanya Gotri:

Gotri - anjing penjaga Warung PASIR BERBISIK Bromo

.

.

Sambil menyeruput teh manis panas di tengah dinginnya udara Bromo… sesekali datang serbuan angin membawa debu pasir dengan suara yang mirip bisikan, makanya disebut PASIR BERBISIK.

Seruput demi seruput, semakin terasa perjuangan sang Ibu penjaga warung. Tidak ada kepastian hari itu dia akan dapat uang berapa dari hasil berjualan di tempat yang sunyi senyap di tengah padang pasir. Belum lagi setiap hari dia harus melakukan perjalanan yang menyita tenaga yang tidak sedikit. Meski demikianpun, tidak terbersit sedikitpun nuansa kesedihan maupun nada mengeluh dari beliau. Beliau tetap tenang menjalani itu semua…

Sementara itu di tempat lain sebagian besar dari kita setiap pagi bisa memilih mau berangkat bekerja/berusaha dengan kendaraan pribadi atau umum. Sampai di tempat kerja/usaha yang cukup nyaman, dengan tingkat kepastian pendapatan yang lebih tinggi. Pun masih seringkali mengeluhkan hal-hal kecil ini dan itu…

Jadi kalau Anda-Anda yang masih mengeluh tentang pekerjaan, mudah-mudahan sang Ibu penjaga Warung PASIR BERBISIK ini bisa menginspirasi kita untuk lebih bersyukur atas pekerjaan yang kita miliki sekarang.

Warung PASIR BERBISIK - Bromo

Warung PASIR BERBISIK – Bromo

Teriring indahnya pemandangan, dinginnya udara, dan damainya bu penjaga warung… Mari kita syukuri apa yang Tuhan berikan kepada kita.

Salam damai.