Tag

, , , , , , , , , ,

Toko OEN - Malang culinary landmarkToko OEN – Malang culinary landmark, a colonial heritage

.

Mengunjungi kota Malang, karena hanya numpang mampir selama kurang dari 4 jam maka dari itu sisi kuliner yang dituju harus benar-benar terpilih tempatnya biar bisa “to the max”.

Ngomongin kuliner Malang, rasanya wajib untuk mencoba hasil olahan yang sudah melegenda sejak jaman kolonial Belanda dulu yaitu TOKO ,,OEN” – Ice Cream Palace Patissier. Terletak di Jl. Basuki Rakhmat, di depan Gereja Kayutangan dan di samping Toko Buku Gramedia, dari luar menampakkan kesan kolonial dari bentuk bangunan. Terlihat dari model kisi-kisi jendela, dan ornamen dinding di atas bangunan menandakan era art deco yang sempat mewarnai arsitektur Indonesia pada masa itu.

Ini interiornya…

WELKOM IN MALANG, TOKO ,,OEN” DIE SINDS 1930

(even older than this country)

interior Toko OEN Malang

.

Sambil menunggu main course, pesan dulu es krim yang memang menjadi salah satu kekuatan Toko OEN ini. OEN Special…

Es krim OEN's Special - Toko OEN Malang

.

Seperti pada umumnya es krim jaman dulu maka kandungan krim dan susu yang dimasukkan tidak terlalu banyak sehingga es krim ini terasa lebih segar dan bersih di lidah serta tidak meninggalkan jejak di tenggorokan.

Untuk main coursenya, setelah mendapat rekomendasi dari seorang teman maka akhirnya terpilih hidangan Bistik Lidah OEN.

Bistik lidah - Toko OEN Malang

.

Dengan nama bistik, sudah melambangkan bahwa masakan ini adalah masakan peranakan. Nama bistik itu etimologinya dari beef steak, yang susah dilafalkan oleh lidah pribumi pada masa itu. Dengan akulturisasi rasa dan akulturisasi pengucapan, jadilah hidangan Bistik dengan penyajian yang sedikit berbeda dari steak.

Lidah yang disajikan luarnya terasa agak kering, tetapi dalamnya masih sangat kenyal dan empuk. Sepertinya lidahnya diolah dengan bumbu dan diungkep kemudian digoreng sebentar untuk memberikan bentuk yang indah (nggak tahu bener apa enggak, ini hanya kira-kira reverse engineering saja). Lidahnya dahsyat, bumbunya lebih dahsyat lagi… Rasanya lengkap ada asin, gurih, rasa daging, dan sedikit manis.

Bistik lidahnya Toko OEN – Malang, MAK NYUSSSS…..

Di luar makanan dine-in, Toko OEN ini pada dasarnya adalah TOKO sehingga menjual berbagai kue dan pastry.

Roti kering - Toko OEN Malang

.

Saya tengok toplesnya, di tutup toples tergrafir tulisan “GERMAN MAKE – SIEMENS DRESDEN”. Baru tahu nih ada toples merk Siemens, hehehehe….

Usut punya usut, ternyata memang dulu Siemens adalah pabrikan gelas di Dresden Jerman. Dan kalau ada toples merk Siemens di toko ini, sepertinya toples tersebut didatangkan dari Jerman pada suatu masa di mana bangsa Indonesia belum bisa bikin toples sendiri. Atau minimal bangsa China belum bisa, soalnya hampir semua sekarang bikinan China. Ini gambar pabriknya dapet dari googling…

Siemens Glass Factory - Dresden

.

.

Sebelum ke Toko OEN, kami menyempatkan mampir mencicipi Rawon yang menjadi ikon masterpiece kulinernya Jawa Timur secara umum. Terpilih RAWON NGULING di Jl. Zainal Arifin kira-kira 200 meter dari Alun-alun kota Malang.

Tempatnya nggak terlalu kelihatan dari jalan, tapi didalamnya cukup besar.

Rawon Nguling - Malang

.

Kalau di Toko OEN kita musti pilih-pilih di antara banyaknya menu, di Rawon Nguling ini kita agak sedikit dipermudah karena hidangan spesialnya so pasti Rawon, walaupun ada menu lainnya juga sebagai pilihan.

Daftar Menu Rawon Nguling - MalangDaftar Menu Rawon Nguling – Malang

.

Setelah dipikir-pikir, akhirnya terpilih untuk dipesan:

  • NASI RAWON
  • RAWON TUTUP DENGKUL (mas-masnya sampai 3 kali ngomong bahwa ini porsinya besar, untuk 2-3 orang)
  • NASI GULE KAMBING
  • LAUK PAUK

Tunggu tidak sampai 5 menit, terhidanglah di meja pemandangan seperti ini…

Rawon Tutup Dengkul - Rawon Nguling Malang

.

Paling kiri itu gule kambing, nasi rawon, nah yang di mangkok besar itu yang namanya Rawon Tutup Dengkul. Di piring kanan ada gorengan paru, perkedel, tempe, limpa, dan babat.

Coba kita bahas satu per satu…

  • Nasi Rawon – Rawon Nguling ini sepertinya bukan termasuk golongan hitam. Kluwek yang digunakan sepertinya tidak terlalu masif, tetapi diperkaya dengan berbagai bumbu/rempah lainnya. Alhasil, rasa rawon yang dihasilkan tidak terlalu pekat kluwek tetapi lebih kaya rasa. Rawonnya seger…
  • Gule Kambing – berbeda dengan gule kambing Betawi yang bersantan putih/ pedas, gule kambing Tegal/Banyumasan yang kuning, maupun gule kambing Jogja/Solo yang biasanya oranye dari cabai… maka gule kambing di sini coklat pekat dengan kandungan rasa yang lebih pekat dari rawon. Hasilnya, gule kambingnya gurih banget dan kaldunya sangat maksimal rasanya. Mak nyus nih gule…
  • Gorengan Lauk Pauk – yang agak spesial ini babatnya yang tebal. Pada umumnya kita mengenal babat berbentuk “handuk”, tetapi di sini babatnya gemuk dan uempuk tenan…
  • Rawon Tutup Dengkul – ini dia yang menurut saya layak jadi maskotnya Depot Cabang Rawon Nguling ini. Kuahnya mirip rawon tetapi lebih ringan, kekuatannya ada pada isinya yaitu daerah dengkul / lutut sapi. Kekenyalan urat dan tulang muda bisa dibuat empuk dan ramah di lidah. Dengan kuahnya yang lembut, setiap gigitan seperti meleleh di mulut. Lebih istimewanya lagi, ternyata menu Rawon Tutup Dengkul ini justru tidak ada di Rawon Nguling pusatnya di daerah Nguling – Pasuruan. Rawon Tutup Dengkul Depot Nguling Malang, MAK NYUSSS….
Tutup Dengkul Rawon Nguling MalangTutup Dengkul Rawon Nguling Malang – MAK NYUSSS!!!

.

.

4 jam terasa singkat di kota Malang, tetapi 4 jam tersebut sudah membawa lidah saya ke langit ketujuh dengan ke-maknyus-annya.

Terima kasih kota Malang untuk pengalaman kuliner tempo doeloenya…

Terima kasih kota Malang untuk Bistik Lidahnya Toko OEN…

Terima kasih kota Malang untuk Tutup Dengkulnya Rawon Nguling…

Pokoke Mak Nyussss…..

.

Salam damai…