Tag

, , , , , , , , ,

Bromo Jeep Club @ Bromo Kaldera

Melanjutkan ekspedisi Gunung Bromo sebelumnya dalam Gunung Bromo – Somewhere over the rainbow… kali ini Wisata Jiwa menjelajahi Kaldera dari dataran tinggi Bromo.

Kaldera ini bagaikan mangkok raksasa yang dikelilingi tebing dan dataran tinggi di sekelilingnya, di mana salah satunya adalah Pananjakan tempat melihat sunrise dengan foreground Gunung Bromo, Gunung Batok, dan background Gunung Semeru di kejauhan.

Menggunakan Toyota Land Cruiser Hard Top yang sudah dibaptis ulang menjadi Jeep (oleh Bromo Jeep Club), jalan cukup curam untuk turun menuju kaldera. Adapun tempat yang dituju adalah kawah Gunung Bromo, padang savanna, dan lautan pasir berbisik.

Di ketinggian > 2000 meter di atas permukaan laut, suhu udara di kaldera saat pagi hari cukup dingin, hanya saja disarankan untuk memakai lengan panjang karena sebenarnya matahari cukup terik tetapi tersamarkan oleh dinginnya udara (kondisi klasik di pegunungan manapun sih…).

Sampai di parkiran menuju Bromo. Jalan menuju kawah cukup menantang!!!

Menanjak menuju kawah Bromo

.

.

Jalan yang harus didaki merupakan jalan yang berpasir halus hingga menjadi debu, menanjak, dengan target di depan mata yang terbentang menjulang tinggi… Banyak ditawarkan naik kuda buat yang nggak kuat jalan nanjak, tapi karena Tuhan menciptakan sesuatu hal yang dinamakan “HARGA DIRI”, maka dengan sopan tawaran tersebut harus saya tolak…🙂

Pendakian menuju puncak Bromo

.

.

Jalan berpasir dan berdebu didaki perlahan, sambil sesekali menyempatkan berinteraksi dengan alam melalui lensa kamera… sesuai semboyan Wisata Jiwa: “Take nothing but pictures, leave nothing but footprints…” Sambil menikmati panorama Gunung Batok di sebelahnya.

take nothing but pictures, leave nothing but footprints...

.

.

Adapun setelah pendakian jalan berpasir selesai, episode terakhir pendakian kita disuguhi dengan terjalnya anak tangga menuju bibir kawah Bromo. Sangat terjal dan tangganya berpasir sehinga makin menyulitkan posisi kaki.

Seperti halnya pendakian pada umumnya, rule of thumbnya adalah kita harus rendah hati. Jangan sombong dan menengadahkan kepala, tetapi nunduk aja fokus ke 2-3 langkah ke depan. Sambil atur napas, satu dua… satu dua… akhirnya saya berhasil mendaki hingga bibir kawah tanpa jeda. Fiuh… masih lumayan jugalah napas ini🙂

Tangga menuju bibir kawah Bromo

.

.

Dan ini dia kawah Bromo itu… yang waktu itu statusnya masih Waspada. Termasuk gunung berapi yang aktif Gunung Bromo ini.

Kawah Gunung Bromo

.

.

Puas menaklukkan tanjakan Gunung Bromo, rombongan kamipun menuju padang Savanna yang lebih menjanjikan wisata yang “no sweat” alias santai… Terletak di ujung lain dari kaldera Bromo, kawasan ini berumput ilalang cukup tinggi seperti padang savanna pada umumnya, dengan background bukit-bukit hijau yang sering disebut bukit Teletubbies-nya Bromo.

padang savanna Gunung Bromo

.

.

Saya sedikit kurang beruntung karena mengunjungi padang Savanna ini ketika musim hujan baru saja mau mulai sehingga rerumputan di sini masih relatif kering… tapi nggak papa, luasnya padang rumput ini dengan bukit-bukit yang sudah menghijau memberikan refreshment bagi mata dan jiwa ini.

Sesekali datang angin pusaran yang membuat pasir beterbangan di kawasan ini…

angin pusaran di padang savanna Bromo

.

.

Dari padang savanna, “Jeep” kamipun beranjak menuju sisi lain lagi dari kaldera ini yang menyajikan lautan pasir. Lautan pasir ini sangat luas dan kalau lihat pasirnya jadi seperti di pantai, hanya saja udara di sini dingin…

Uniknya lautan pasir ini adalah ketika angin berhembus akan menimbulkan efek suara campuran suara angin dan gemerisik pasir menghasilkan suara yang mirip bisikan. Maka dari itu disebut Lautan Pasir Berbisik.

Lautan pasir berbisik - Bromo

.

.

Pasirnya benar-benar nggak kayak lagi di gunung… hanya dinginnya udara yang sedikit mengingatkan bahwa ini bukan di pantai. Ditemani 2 “Jeep” yang setia mengantar, dan si Gotri yang menjadi penunggu kawasan ini.

Lautan pasir berbisik - Kaldera Bromo

.

.

Paduan lautan pasir di kaki kita, hamparan pasir diramu dengan pegunungan dan kabut menggantung di mata kita, terpaan angin dingin di kulit kita, dan sesekali angin berbisik di telinga kita… semua itu memberikan pengalaman yang sensasional. Benar-benar tempat yang lain daripada yang lain Gunung Bromo ini.

Gunung Bromo, ibarat dunia lain… semoga tetap indah seperti adanya hingga kapanpun juga.

Salam damai…