Tag

, , , , , ,

Borobudur dalam keheningan

Sore itu langit mendung, dari pelataran hotel Manohara di halaman belakang saya menikmati pemandangan yang sama yang juga menjadi pemandangan rakyat Jawa lebih dari 1 milenium sebelumnya.

Sempat terkubur dan teronggok selama ratusan tahun hingga akhirnya ditemukan kembali oleh peradaban atas nama Sir Thomas Raffles, Borobudur yang pada masa keemasannya dikunjungi peziarah agama Buddha dari lokal maupun India dan China… sore itu tampak begitu agung dan megah di mata saya.

Sore itu saya cukupkan memandangi indahnya Borobudur. Sebuah mahakarya bangsa Indonesia, yang begitu agung mempesona tanpa harus menyilaukan mata. Begitu menyatu dengan alam, menghadirkan keindahan hasil buah karya manusia di antara indahnya ciptaanNya.

Malam itu tidur nyenyak, untuk persiapan esok paginya mau hunting Sunrise…

.

.

... kabut pagi di Borobudur ...… kabut pagi di Borobudur …

Dari ketinggian candi, terlihat indahnya paparan alam di sekitar kita…

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih…

Suasana perlangitan pagi itu berawan, dengan awan tebal di ufuk timur arah Merapi dan Jogjakarta. Maka pagi itu saya habiskan dengan menikmati heningnya Borobudur di pagi hari, di kala wisatawan umum belum diperbolehkan masuk.

Ditemani kamera dan lensa saya yang setia, dan seorang kawan dari Jogjakarta… saya menikmati indahnya layering kabut dan pegunungan di pagi hari itu. Posisi candi yang tinggi memungkinkan saya untuk memandang ke segala penjuru.

.

.

... Samadi ...
… Samadi …

Candi ini menjadi pahatan manusia akan tutur cerita yang memberi bimbingan bagi kita dalam menjalani hidup. Banyak sekali paparan yang begitu dalam, disampaikan melalui berbagai cerita yang tergambar di relief dinding candi. Bagi para peziarah pada zamannya, setiap tingkatan candi dikelilingi 4 kali dengan setiap kali keliling fokus pada salah satu deretan relief (relief dinding dalam atas, dinding dalam bawah, dinding luar atas, dan dinding luar bawah). Setelah 4 kali keliling, baru naik ke tingkatan atasnya lagi.

Pada tingkatan paling atas, tidak ada relief. Yang ada hanyalah stupa Buddha bersamadi. Di tataran ini tidak ada lagi segala hal manusiawi, karena Buddha / Yang tercerahkan sudah di atas semua itu.

.

.

... sekejap serasa di Burma ...

Menengok ke salah satu sudut sekitar Borobudur, pandangan tertumpu pada sebuah bangunan dengan bentuk stupa yang sangat mirip dengan yang bisa kita jumpai di negeri Himalaya… lengkap dengan bendera-benderanya, yang melambangkan ujub doa yang dipanjatkan kepada Yang Kuasa.

Sekejap saya merasa sedang di Burma… walaupun belum pernah ke sana🙂

.

.

... sang Buddha ...

 

Jam 6 lewat sedikit, mulai berdatangan deh para rombongan wisatawan. Sambil beranjak turun perlahan meninggalkan keagungan itu, saya nikmati sekali lagi damainya patung sang Buddha yang tercerahkan. Menikmati keheningan Borobudur menjadi pengalaman tersendiri bagi saya, untuk lebih meresapi sekelumit perjalanan peradaban manusia dalam mencari pencerahan akan keberadaannya di dunia.

Menjadi bekal menjalani tahun yang baru ini dengan semangat kedamaian jiwa…

Selamat Tahun Baru 2013, salam damai…