Tag

, , , , , , , , ,

menelusuri kerimbunan di antara hangatnya pagi...

Foto di atas saya ambil sekitar 2 tahun lalu di dusun Gawok, sekitar 5-10 km sebelah barat daya kota Solo. Sekitar jam 6 pagi lebih sedikit waktu itu, ketika sinar matahari sudah mulai menghangatkan pagi hari yang dingin. Sang ibu penjual entah apa itu, dengan etos yang dijalaninya sehari-hari mengayuh pelan sepedanya menuju pasar Gawok.

Bagi kita-kita yang terlahir sebelum era 90-an, masa kecil kita pada umumnya masih dijalani tanpa sebuah perangkat yang bernama AC – Air Conditioner. Nah, buat yang hidup di masa itu pasti bisa merasakan “terbangun karena hangatnya matahari pagi”.

Di masa itu, udara pagi cenderung dingin hampir sehingga mengajak kita untuk menarik selimut dan lanjut tidur. Tetapi keseimbangan alam memberikan secercah sinar matahari pagi yang hangat, untuk membangunkan kita dan mulai berkarya.

Di Indonesia ini sekarang saya yakin tinggal sedikit orang yang bisa merasakan indahnya hal tersebut. Apalagi di negara lain yang iklimnya sub tropis, matahari nggak hangat di sana. Mungkin hanya orang yang tinggal di daerah pegunungan yang masih menikmati “kemewahan” alam itu.

Yang tinggal di sini (dataran tinggi Dieng)…

Dieng Landscape

.

Yang tinggal di sini (dataran tinggi Bromo)…

BROMO - Somewhere over the rainbow

.

Dan mungkin juga yang tinggal di sini (dataran tinggi Tomohon)…

somewhere near Tondano

Semua berubah karena AC, dan karena perilaku orang yang berubah dengan adanya AC. Tidak ada lagi yang terbangun karena hangatnya matahari pagi. Semua terlindung di balik dinding tebal, gordyn berlapis, dan sejuknya udara yang dihembuskan AC 1,5 PK untuk sebidang kamar berukuran sedang. Bahwa di luar sana udara pagi menjadi hangat oleh semburan kondensor AC itu perkara lain. Toh keluar dari rumah yang ber-AC orang akan langsung masuk ke mobil yang juga ber-AC, berkendara menuju sekolah / kantor / mal yang juga nyaman dan sejuk oleh AC.

Betapa nikmat orang sekarang yang selalu bergelimang kesejukan AC… Orangpun berlomba-lomba meng-AC-kan kehidupannya karena udara semakin tidak nyaman karena semua orang meng-AC-kan hidupnya. Jadi seperti putaran roda setan yang nggak ketahuan ujung pangkalnya.

Yang lebih lucu lagi, di kota Bandung yang dulu terkenal dengan udaranya yang sejuk dibangun sebuah Amusing Park Indoor – Full Air Conditioned. Sungguh ironis…

Nikmatnya rasa kulit yang diterpa hangat sinar matahari pagi, membuat terbangun dari lelapnya tidur, menggantikan dinginnya malam menjadi hangatnya pagi… mungkin semua itu tinggal sepenggal cerita akan kemewahan masa lalu yang bakal punah.

Salam damai.