Tag

, , , , , ,

Tulisan ini melanjutkan 2 edisi sebelumnya membahas tuntas kuliner Jogja dengan tentu saja dibumbui wisata jiwa didalamnya.

WISATA RASA JOGJA Bagian 1

WISATA RASA JOGJA Bagian 2

Mungkin ini bisa jadi sedikit mengulang ulasan tentang GUDEG. Saya sendiri secara rasa menyukai gudeg gagrak super manis seperti Gudeg Yu Djum (ada di daerah Selokan Mataram dan Wijilan). Tetapi untuk sarapan pagi, favorit saya adalah gudeg pinggir jalan atau gudeg yang biasanya pada mangkal di simpangan jalan.

Wisata Jiwa Gudeg Jogja 1

Gudeg Gowongan – Jogja

Di sebelah utara stasiun Tugu di pagi hari, ibu penjual gudeg menyiapkan gudeg dan “ubo rampe”nya (segala pendukungnya) seperti opor, baceman, sambel goreng krecek, nasi, bubur, dan sayuran.

Antri beli gudeg untuk sarapan keluarga

Antri beli gudeg untuk sarapan keluarga

Gudeg dan ubo rampenya belum 100% siap, para pembeli sudah manis mengantri di depan warung. Ada ibu-ibu, ada mbak-mbak, ada mas-mas, ada yang bawa anak segala. Pada umumnya menu nasi/bubur gudeg ini diperuntukkan sebagai menu sarapan keluarga Jogja pada umumnya.

Menu diracik sempurna

Menu diracik sempurna

Tanpa membiarkan customer menunggu terlalu lama, sang ibu penjual gudeg langsung menyingsingkan lengan baju duduk di singgasana kebesarannya menghadap ke deretan panci didepannya. Piring demi piring diisinya dengan racikan sesuai pesanan pelanggan.

Nasi gudeg, bubur gudeg, pakai ayam suwir, pakai telur, tanpa sayur, pakai brutu, dan banyak customization lainnya dia terapkan dengan fleksibilitas pelayanan yang tinggi. Sungguh suatu penampakan nyata akan flexible operational yang handal.

Dan ini dia menu pesanan saya, bubur gudeg pakai ayam suwir dan tempe bacem. Cukup untuk mengisi perut di pagi hari…

Bubur Gudeg menu sarapan favorit saya

Bubur Gudeg menu sarapan favorit saya

Satu hal yang saya amati sambil menunggu pesanan saya diracik adalah adanya SIMBIOSIS MUTUALISME yang terjalin dengan hangat antara supplier dan customer, antara produsen dan pasar. Supplier atau produsen dalam hal ini diwakili oleh ibu penjual gudeg, sementara customer atau pasar adalah para pembeli gudeg yang mengantri tadi.

Sedikit berbeda dengan pola hubungan kapitalis yang menggembar-gemborkan CUSTOMER IS KING, CUSTOMER ALWAYS RIGHT… di sini hubungan antara produsen dan pelanggan terlihat setara. Sang produsen di satu sisi membutuhkan uang secukupnya dari hasil menjual gudeg, sang pembeli di sisi lain membutuhkan sarapan yang baik dengan harga terjangkau untuk keluarganya. Ketika sang customer datang dan gudeg masih disiapkan, tidak ada keluhan apalagi makian dan sumpah serapah seperti yang sering kita dengar di televisi Indonesia yang makin menyedihkan sekarang ini. Alih-alih marah, sang pembeli yang sudah akrab dengan penjualpun malah ngobrol sambil si penjual terus mempersiapkan dagangannya. Sang penjual dengan ramah melayani, sang pembeli menghormati sang penjual yang sudah menyiapkan sarapan baginya dan bagi keluarganya.

Mungkin ini yang namanya hubungan ekonomi kekeluargaan ya… ah indahnya…🙂

Sampai ketemu di WISATA RASA JOGJA selanjutnya, mengenai Sambel Belut yang juara.

Salam damai.