Tag

, , , , , , , , , , ,

Pasupatinath 03

Sadhu @Pasupatinath, Kathmandu – Nepal

NAMASTE… Namaste translates as: I bow to the Divine in You. Lebih dari sekedar salam, Namaste memberikan makna kehidupan yang cukup mendalam. Mengingatkan kita akan adanya Ruh Pencipta di setiap manusia maupun penghuni alam semesta lainnya.

Dengan landasan itu, maka diharapkan kita lebih berhati-hati dalam setiap aksi maupun reaksi kita kepada sesama dan makhluk lainnya. Karena apa yang kita perbuat pada mereka, secara langsung maupun tidak maka kita perbuat kepada Sang Pencipta.

.

Bhaktapur 07

Sadhu @Bhaktapur – Nepal

Seperti halnya Salam damai… kita menyampaikan salam kedamaian untuk seluruh penghuni alam semesta. Karena manusia hadir di dunia sebagai bagian dari alam, bukan untuk memanfaatkan dan mengeskploitasinya secara egosentris.

 .

Kathmandu 02 (Raju)

Bersama Raju – pengemudi taksi di Kathmandu Nepal

Dia adalah Raju, pengemudi taksi yang mengantar kami berkeliling di sekitaran Kathmandu – Bhaktapur.

Setiap pagi, dia harus memutuskan apakah akan menghabiskan hari itu untuk antri kuota 10 liter bensin seharga 150 Rupee (1 Rupee = 130 Rupiah) dan kehilangan pendapatan…

Atau pilihan lainnya adalah dia beli bensin di “black market” seharga 500 Rupee untuk langsung cari order dari turis di hotel sekitaran Thamel atau di bandara Kathmandu.

.

Bhaktapur 03

Bapak penjual Momo – Bhaktapur Nepal

Bapak yang satu ini buka warung kecil yang berjualan Momo (semacam Dimsum) di daerah Bhaktapur. Momo ini menggunakan daging kerbau, dan lemak yang digunakan menciptakan aroma yang cukup khas. Seporsi (10 Momo) dijual sekitar 50 Rupee.

Beliau ini cukup kooperatif juga, begitu saya motret maka beliau secara sukarela langsung berpose…🙂

.

Himalaya 32 (Bidhun)

Bersama Bidhun – pengemudi taksi di Pokhara Nepal

Nah yang ini namanya Bidhun, yang mengantar kami dari Pokhara menuju Sarangkot – viewpoint ke arah Annapurna (salah satu bagian dari Himalaya).

Pria sederhana ini pernah bekerja di Malaysia, jadi sedikit banyak dia bergaul dengan orang-orang Indonesia di sana. Satu hal yang kami dapati, Indonesia (turis Indonesia) sangat kurang dikenal di Nepal. Acapkali kami dikira orang dari Malaysia, atau Filipina, atau Thailand… dan satu-dua kali kami dikira orang Nepal dan langsung diajak ngomong Nepal. Tapi tidak pernah sekalipun orang langsung bertanya apakah kami dari Indonesia.

Yah, mungkin turis Indonesia lebih banyak dikenal di negara-negara tempat belanja ya…🙂

.

Wajah-wajah lainnya yang sempat saya rekam dalam perjalanan singkat di Nepal.

.

Pokhara 03

Baggage Man – Pokhara airport Nepal

.

Himalaya 21

Penjaga tiket Sarangkot, setiap hari siaga dari jam 5 pagi di dinginnya puncak bukit.

.

Pokhara 14 (Lakshman)

Bersama Lakshman – waiter restoran yang sangat ramah dan helpful

.

Bhaktapur 09 (Ignacio)

Bersama Ignacio – turis asal Chile

Namanya Ignacio, dari negaranya Marcelo Salas dan Alexi Sanchez – Chile. Sekejap kami ngobrol singkat, sharing tentang passion yang sama akan budaya dan arsitektur warisan nenek moyang dari berbagai bangsa.

Satu hal yang sama-sama kami sayangkan adalah adanya “budaya-budaya” atau kalau mau disebut “agama-agama” baru yang dalam penyebarannya membumihanguskan budaya dan kearifan lokal serta menggantikannya dengan seragam agama/budaya baru dari negeri asal agama/budaya baru itu lahir dan berkembang.

Semoga ke depan umat manusia bisa belajar dari kesalahan-kesalahan masa lampau. Dan semoga perjalanan umat manusia dapat terus saling memperkaya dengan kearifan dari berbagai penjuru dunia.

.

Salam damai…

Seri perjalanan Nepal:

Nepal part I – Renungan di antara reruntuhan

Nepal part III – Memandang atap dunia

Nepal part IV – Keindahan di antara puing