::: WISATA JIWA :::

…memaknai pengembaraan jiwa di dunia…

CINTAILAH MUSUH-MUSUHMU…

BUNDA TERESA

.

THE PROBLEM OF THIS WORLD IS THAT WE DRAW TOO NARROW LINE ON OUR CONCEPT OF FAMILY

.

Petikan kata-kata indah di atas adalah salah satu pesan dari Bunda Teresa, seorang suci yang mendarmakan hidupnya bagi kaum papa di India. Sebuah pesan yang sangat mendalam, tetapi dalam kenyataannya sangatlah sulit untuk bisa saya jalankan. Nggak usah jauh-jauh ngomongin negara lain yang berperang, dengan tetangga dekat, dengan orang yang berpapasan di jalan, dengan pengemis yang datang, saya sudah menarik garis batas yang tebal membatasi antara saya dan mereka. Garis marka tersebut saya jaga untuk mempertahankan kenyamanan hidup saya. Bayangkan sebuah dunia di mana seluruh manusia menganggap manusia lain sebagai keluarga…

Nggak usah muluk-muluk mau mengaplikasikan “Cintailah musuh-musuhmu”, walah ini almost impossible… ini areanya orang-orang suci, he he he… Saya coba memperluas area “keluarga” saya dulu deh.

Semoga bisa sedikit demi sedikit ke arah sana…

Salam Natal bagi semuanya, damai di hati… damai di bumi…

Salam damai…

Desember 22, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari, Religi | , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Nikmat bersama MAIA ESTIANTY, DEWA BUDJANA, dan ARMAND MAULANA…

Panggung Creative Solutions

Capture persiapan panggung...

Apa sih enaknya motret? Enakan juga dipotret, tinggal gaya sana sini dapat deh hasilnya…

Apa sih enaknya motret artis? Lebih enak jadi artis, tenar, digilai lawan jenis, dapat banyak duit…

Apa sih enaknya motret laut? Enakan juga berenang dan surfing di laut…

Menurut saya, mempertanyakan dan membandingkan enaknya motret itu bisa diibaratkan seperti paradigma orang mencari kebahagiaan. Sedikit sharing dari Mr. Mario Teguh tadi malam tentang kebahagiaan:

Tersebutlah sepasang suami istri dengan topi tani berjalan pulang di pematang sawah di tengah rintik hujan, sambil bergandengan tangan. Ketika lewat orang naik motor, mereka berpikir alangkah bahagianya orang yang naik motor… bisa lebih cepat sampai rumah.

Orang yang naik motor itu kemudian disalip oleh mobil bak terbuka, brrrrmmm…. dalam hati si pengendara motor, alangkah bahagianya orang di dalam mobil bak terbuka itu tidak perlu kehujanan seperti dirinya.

Tak berapa lama kemudian, sebuah sedan mewah meluncur cepat berpapasan dengan mobil bak terbuka tadi. Pengendara mobil bak pun tertegun melihat indahnya sedan tersebut dan berpikir alangkah bahagianya orang di dalam sedan mewah tadi. Dan untuk kesekian kalinya “kebahagiaan” itu berpindah pemilik.

Sementara itu, di dalam sedan mewah tadi sang pengemudi adalah seorang eksekutif muda yang sedang gundah hatinya. Dia dalam perjalanan ke Bandung menjenguk ayahnya yang sakit keras, sementara istrinya sedang berlibur di Bali. Ketika dia melewati jalanan di pinggir sawah dilihatnya sepasang suami istri berjalan bersama di pematang sawah. Sang eksekutif mudah tadi berpikir betapa bahagianya sepasang suami istri tersebut…

Nah, dari cerita Mr. Mario Teguh tadi sepertinya kebahagiaan itu jadi terlalu absurd kalau kita letakkan di luar diri kita. Kondisi JIKA atau KALAU akan menjauhkan kebahagiaan dari diri kita.

Kembali ke masalah potret memotret tadi, kalau dipertanyakan apa sih enaknya motret dibandingkan A, B, C, dan D maka tidak akan ketemu jawabannya. Jelas-jelas kebahagiaan atau kenikmatan itu sifatnya mutlak dan independen, bukan relatif dan bergantung pada ini dan itu.

Saya mau menggambarkan sedikit kondisi yang terjadi ketika minggu lalu saya meliput penampilan dari GIGI dan DUO MAIA di acara kantor. Pada awal acara semua yang hadir masih pada jaga image dan malu-malu, masih pada duduk manis di meja masing-masing sementara saya dan beberapa rekan fotografer sudah “ndelosor” di bawah panggung. Sudah nggak peduli lagi bahwasanya kami duduk di lantai sementara yang lain duduk di kursi, yang penting bisa motret dengan sudut terbaik. Bagi saya pada saat itu kenikmatan adalah ada posisi terbaik bagi lensa kamera saya, bukanlah posisi kursi terbaik dengan menu makanan terlezat yang terhidang.

Satu kenikmatan yang sangat indah bagi saya setelah jadi hobi memotret adalah: DENGAN FOTOGRAFI, SAYA MERASA BISA LEBIH MENIKMATI INDAHNYA DUNIA INI. Mungkin Anda tidak percaya ya? Tapi benar lho, setelah sering memotret maka pada banyak kesempatan saya menjadi lebih sering bergumam “wah indah banget awannya…”; “wah indah banget pasar ini kalau dipotret”; dan banyak lagi keindahan lainnya yang jadi bisa saya nikmati dibandingkan sebelumnya.

Saya belajar dari itu semua, kalau namanya bahagia atau nikmat ya dirasakan saja… nggak usah dicari-cari atau diandai-andai… Kalau mau bahagia, ya bahagialah. Tidak perlu embel-embel ini dan itu.

Ini saya share beberapa kenikmatan yang saya rasakan di acara tersebut bersama kamera saya tercinta…

Monggo…

Armand Maulana Dewa Budjana GIGI

Nikmat bersama kolaborasi Armand Maulana & Dewa Budjana...

Armand Maulana GIGI

Nikmat bersama Armand Maulana dan aksi panggungnya...

Armand Maulana GIGI

Nikmat bersama Armand Maulana - Mick Jaggernya Indonesia

Armand Maulana GIGI

Nikmatnya "atas bawah" dengan Armand Maulana

Dewa Budjana GIGI

Nikmat bersama Dewa Budjana dalam spiritualitasnya

Maia Estianty

Nikmat bersama kerlingan Maia Estianty

Maia Estianty

Nikmat bersama Maia Estianty dalam jeda antar bait lagunya

Maia Estianty

Nikmat bersama Maia Estianty dan keyboardnya

Maia Estianty

Nikmat bersama pose sejenak Maia Estianty

Crew Duo Maia

Nikmat bersama crew band Duo Maia

Fotografi memang nikmat, begitu kata sang fotografer yang berbahagia… :)

Salam damai…

Desember 21, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari | , , , , , , , , , , | & Komentar

Bacem Kepala Kambing…

Bacem kepala kambingBaceman Kepala Kambing

.

Masih dalam perjalanan dinas saya ke Jogjakarta tercinta, kali ini saya mau sedikit ber-WISATA RASA:)

Menu kali ini cukup unik, barangkali tidak semua orang doyan – atau lebih tepatnya tega memakannya. Menunya adalah BACEM KEPALA KAMBING. Sebelumnya saya mohon maaf kalau foto-fotonya agak kurang maksimal, mengingat saya tidak bawa kamera saya jadinya ya darurat pakai kamera HP. Mudah-mudahan tidak terlalu buruk hasilnya.

Berlokasi di kawasan Jakal (Jalan Kaliurang) km 7, di belakangnya Pasar Colombo. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari tempat saya menginap di Jogja Utara.

Bacem kepala kambing

Loyang pajangan

.

Penyajiannya sangat sederhana, dipajang di atas baki atau loyang alumunium dan kita dipersilakan memilih bagian mana saja yang kita mau. Ada bagian lidah, kuping, pipi, mata, dan tulangan. Bagi yang berperasaan halus dan sensitif, mending kalau mau coba jangan lihat sebelum dipotong-potong deh, malah jadi nggak selera nanti. Tetapi bagi saya, justru melihat potongan-potongan setengah utuh itu makin menambah selera primitif saya untuk menyantap itu semua. Saya yang datang bertiga memesan lidah dan kuping, sisanya terserah yang jualan mau ditambah apa lagi.

Potong-potong crok.. crok.. crok.. goreng sreng… sreng… sreng…

Sekitar 10 menit kemudian sajian bacem kepala kambing yang matangpun terhidang di depan mata:

1 SET Bacem kepala kambing1 set bacem kepala kambing

.

Mak nyusss….

.

Manisnya daging kepala kambing, dicampur pedas campur sedikit asamnya sambal, cukup mak nyus kalau kata Pak Bondan… yang saya lihat di dinding terpampang foto beliau.

Ada yang berpendapat makan kepala kambing itu SADIS alias TIDAK BERADAB. Kalau menurut saya, justru yang sadis itu adalah orang yang sudah membunuh kambing tetapi menyia-nyiakan kepalanya begitu saja. Seharusnya kalau kita sudah mengorbankan nyawa seekor kambing maka harus kita maksimalkan apa yang bisa dimanfaatkan dari kambing tersebut. Jadi, tidak usah ragu-ragu untuk menyantap kepala kambing. Mari kita syukuri pengorbanan seekor kambing bagi umat manusia dengan tidak menyia-nyiakan kepalanya untuk begitu saja masuk ke tong sampah.

Buat yang mau ke Jogja, monggo kulo aturi pinarak…. (saya persilakan mampir). POKOKE MAK NYUSSS…

Salam damai…

Desember 21, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Indonesia tercinta, jalan-jalan | , , , , , , , | & Komentar

Mengapa menunda kebahagiaan?

Wedang Ronde Malioboro

Saat menulis posting ini, saya sedang berada di lobby hotel Sheraton Jogjakarta dalam rangka persiapan presentasi besok di forum ISODEL 2009.

Setelah mengalami delay sekitar 30 menit (wah, Garuda mulai hobby delay nih), pesawatpun mengudara menuju kota yang tidak pernah bosan-bosannya saya kunjungi – JOGJAKARTA

Touchdown cukup mulus, sayapun diajak makan siang di sebuah rumah makan tradisional di sekitaran daerah Kampus – namanya rumah makan Mbak Diah. Menu yang saya pilih adalah:

  • sayur lodeh terong “wayu” – alias sayur kemarin yang dihangatkan lagi sampai lebih kental dan “kemlaket”
  • tempe goreng
  • ayam bacem
  • sambal bawang yang masih segar

Wah, walaupun sayurnya masih kurang kental tapi cukup mak nyus rasanya makan siang saya tadi.

Singkat cerita, kamipun menuju hotel Sheraton setelah nasi di piring tandas. Di mobil menuju hotel inilah saya mendapatkan “quote of the day”. Ketika melihat betapa kota Jogja masih cukup lengang dan nyaman dibanding hiruk pikuknya Jakarta, rekan saya nyeletuk, “Wah enak ya kalau pensiun di Jogja…”. Saya mengangguk-angguk tanda setuju, tetapi kemudian rekan saya yang berdomisili Jogja menimpali dengan “quote of the day”nya : “NGGAK USAH NUNGGU PENSIUN JUGA ENAK KOK…”.

Jogjakarta, kota yang selalu mengundang saya untuk kembali ke sana lagi… dan lagi… dan lagi…

Salam damai.

Desember 8, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari, jalan-jalan | , , , , | & Komentar

AURA KASIH

Aura Kasih

Masih cukup kental di benak saya, sebuah quote yang sangat indah yang saya dapat dalam perjalanan ke kantor Senin pagi minggu lalu. Serangkai kata-kata mutiara dari Pak Mario Teguh yang saya dengar melalu Smart FM,

“Orang BAIK adalah orang BENAR yang SANTUN”.

Jadi menurut Pak Mario, orang baik itu ada 2 syaratnya: BENAR dan SANTUN. Sambil terus mendengarkan, mobil sayapun mulai berbelok dari arah Matraman menuju Proklamasi. Sambil terus lihat kanan kiri begitu berserabutan motor-motor ibarat rombongan lebah, hati saya terus diingatkan untuk santun… sabar…

Lebih lanjut lagi diteruskan kata-kata mutiara tersebut,

“Orang BENAR yang tidak SANTUN akan menjauhkan orang lain dari KEBENARAN”

tetapi di sisi lain,

“Kita juga harus berhati-hati terhadap KESANTUNAN yang menutupi KETIDAKBENARAN”

Ah, pagi-pagi sudah dapat pesan yang begitu indah… tetapi juga begitu berat dan dalam maknanya.

Saya jadi ingat, entah pernah baca di mana gitu ada cerita yang kita-kita begini.

Tersebutlah seorang yang hidup lurus, nggak neko-neko berniat untuk jadi pertapa. Diapun kemudian mulai menjalankan laku tapanya, menjauhkan diri dari hal-hal duniawi dan mendekatkan diri pada kebenaran sejati dengan mengurung dirinya di sebuah rumah terpencil.

Pada suatu malam, datanglah sebuah ujian dalam bentuk seorang gadis yang berprofesi sebagai pelacur. Pelacur tersebut masuk ke dalam rumah di mana sang pertapa tersebut sedang bersemadi. Pelacur tersebut sangat kelaparan, dan meminta makanan kepada sang pertapa. Sebagai imbalannya, sang pelacur bersedia menyediakan tubuhnya bagi sang pertapa.

Seketika itu juga naik pitamlah sang pertapa. Dengan segera diseretnya sang pelacur itu tadi dan serta merta ditendang keluar rumah. Pelacur itupun jatuh terjerembab dengan badan yang sudah tidak karuan lagi rasanya di halaman rumah. Dari tubuh yang terbengkalai itu kemudian menjelma wujud mulia yang menegur keras kepada sang pertapa atas kelakuannya…

Kalau dipikir dengan paradigma kebenaran, barangkali sang pertapa bertanya-tanya tentang apa yang salah dari perbuatannya. Dia sudah memegang teguh kebenaran, menegakkan tiang-tiang norma dan susila, mengaplikasikan hukuman bagi yang bersalah. Itu semua benar, hanya saja kalau mengacu ke apa yang dijelaskan Pak Mario tadi bahwa kebenaran itu harus disampaikan dalam KESANTUNAN.

Seringkali kita berusaha berbuat BENAR, dan kita MERASA sudah cukup benar maka kita mulai berusaha untuk mengajak orang lain supaya menjadi benar seperti kita. Nah, untuk kita yang akan mulai beranjak ke level itu sepertinya pesan yang disampaikan Pak Mario Teguh ini sangat penting untuk kita ingat. Tanpa KESANTUNAN, seluruh usaha kita mengajak justru akan menjadi bumerang yang menjauhkan orang dari kebenaran yang kita promosikan.

  • Bagaimana mungkin kita mengiklankan sebuah dunia yang indah bila kita menyampaikannya dengan amarah?
  • Bagaimana mungkin kita mempromosikan sebuah kehidupan yang lebih baik bila kita menyampaikan dengan cara merendahkan martabat orang lain?
  • Bagaimana mungkin kita memperkenalkan KASIH bila orang tidak melihat KASIH dalam cara kita menyampaikannya?

Mari menebar AURA KASIH di sekitar kita… :)

Salam damai…

Desember 7, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari, Religi, Uncategorized | , , , , , | & Komentar