::: WISATA JIWA :::

…memaknai pengembaraan jiwa di dunia…

Ekonomi kerakyatan? Ah, ekonomi kebersamaan sajalah…

Setelah hampir 1 bulan raket tenis nganggur, akhirnya tadi malam mulai terayun kembali. Diiringi spirit yang masih menggebu-gebu sisa dari nonton forehand Soderling, raketku pun kembali in action. Ah… nikmatnya kucuran keringat di segarnya malam hari Jakarta yang indah ini.

Berkat tenis semalam, pagi tadi bangun jam 6:30. Walah… akhirnya diputuskan pesan taksi saja buat ke kantor. 10 menit berselang dari telpon, taksi datang. Begitu duduk, pasang earphone buat radio sepanjang jalan, dan meluncur….

Dengan back sound ocehan Steny & Pandji, saya mulai baca-baca buletin taksi yang isinya bermacam-macam dari mulai sejarah berdirinya taksi, hingga daftar panjang beasiswa yang diberikan kepada anak-anak dari pengemudi taksi tersebut.

Saya lihat daftar penerima beasiswa itu, berlembar-lembar… ratusan anak pastinya di Universitas ini dan itu. HEBAT!!, batin saya dalam hati. Begitu besar perhatian perusahaan taksi ini kepada karyawannya. Saya terus berpikir begini…

  • Namanya perusahaan taksi, saat ini ada banyak.
  • Barang dagangan taksi-taksi itu semua sama, yaitu mobil. Khusus di Jakarta, hampir 90% (kira-kira, bukan hasil survey statistik) itu mobilnya ya sama yaitu Toyota Soluna / Vios.
  • Barang sama, tapi apa yang bisa membuat beda buat konsumen macam saya?
    • Pelayanan
    • Kenyamanan
    • Keamanan
    • Apa yang membedakan pelayanan, kenyamana, dan keamanan dari berbagai jenis taksi itu, tak lain dan tak bukan adalah faktor SUPIR, atau faktor MANUSIA.

Bagi sebuah perusahaan, memang faktor Manusia memegang jiwa dan roh perusahaan tersebut. Bagaimanapun, yang namanya keunggulan mesin bisa dengan mudah disamai. Keunggulan uang bisa dicari sumber pendanaannya. Tetapi kalau manusia di dalam perusahaan itu sudah tidak dalam spiritualitas yang tinggi, percuma saja semua itu.

Pertanyaan selanjutnya adalah, “MANUSIA DENGAN SPIRIT MACAM APA YANG DIBUTUHKAN?”

Saya sendiri nggak tahu persis, dan nggak berani ngaku-ngaku tahu jawaban dari pertanyaan saya di atas. Hanya saja, sebagai panduan dalam bekerja saya coba mengingat selalu beberapa hal ini.

  • Dengan siapakah kita bekerja?

Kita bekerja sama-sama cari makan, nggak perlulah saling gontok-gontokan nggak karuan. Kebersamaan itu indah kawan…

  • Untuk apakah kita bekerja?

Demi uang, itu pasti. Uang untuk sandang, papan, pakaian. Ketika tingkat kebutuhan kita naik dari level tersebut, mulailah muncul kebutuhan-kebutuhan baru. Ketika kita diperbudak keingingan tersebut, maka mulailah kita memperbudak pekerjaan. Saya coba untuk selalu ingat bahwa bekerja tidak hanya demi uang dan keinginan-keinginan pribadi.

  • Untuk siapakah kita bekerja?

Saya yakin banyak yang dengan yakin mengatakan bahwa bekerja demi keluarga. Sekarang, kalau ada yang tiap hari pergi pagi pulang malam, nggak pernah ketemu anak dan ngobrol sama isteri, masih berani ngaku kerja demi keluarga?

Barangkali kita harus mempertanyakan lebih jauh, apakah benar kita bekerja demi keluarga? Bukan demi pemegang saham?

  • Apa manfaat keberadaan saya dan pekerjaan saya?

Kalau seandainya, tidak ada saya di dunia ini… apakah yang berbeda?

Kalau seandainya, saya tidak bekerja di dunia ini… apakah yang berbeda?

Mudah-mudahan dengan selalu mengingat ini, segala hal dalam pekerjaan kita diniatkan dengan spirit yang bagus, demi dunia yang lebih baik.

Sekali lagi, salut untuk BLUE BIRD GROUP!!!

Selamat bekerja.

Salam damai…

Juni 24, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari, Keluarga | , , , , , , | 2 Komentar

Metromini yang menyegarkan jiwa…

Pulang dari menyelami indahnya laut Pulau Sepa, ternyata tidak hanya meninggalkan bekas yang mendalam di hati… tapi juga meninggalkan bekas luka yang cukup dalam di tangan. Auw, perih rasanya…

Demi menjaga selama masa pemulihan luka, terpaksalah untuk sementara waktu berpisah dulu dengan KRL tercinta dan lebih intim dengan mobil untuk sementara waktu. Daripada kesenggol-senggol di kereta nanti malah auw-auw sendiri, nggak lucu banget sepertinya.

Pagi-pagi jadi turut serta dalam program bersama memacetkan Jakarta, bersama ribuan mobil dan puluhan ribu motor menjejali jalanan Jakarta. Bawa mobil yang ukurannya cukup besar harus ekstra hati-hati di antara banyaknya motor yang berseliweran, mengasumsikan mobil-mobil sebagai benda statis yang harus dilewati. Kalau kurang hati-hati dan sabar, bisa macam begini kejadiannya (jadi ingat waktu saya ke India beberapa tahun lalu).

.

Delhi 12 smallKeributan kecil di pinggiran Delhi, dari dalam mobil yang saya naiki.

.

Nah… kalau sudah begitu kejadiannya, paling nggak jauh dari ribut-ribut. Kebetulan di India kondisi jalanannya mirip di Jakarta, semrawut. Kalau orang Jakarta senang klakson, nah orang India ini sekitar 2-3 kali lebih senang mengklakson dibanding orang Jakarta. Rame deh di jalanan.

Saya pernah baca (lupa di mana), bahwa untuk menilai budaya suatu bangsa maka lihatlah jalan rayanya. Sedikit banyak saya melihat kebenaran dalam generalisasi dalam kalimat tersebut. Memang ketika orang berada di jalan, nampaklah bagaimana dia memandang jalanan. Apakah jalanan dianggap sebagai media dan mobil/motor lain sebagai halangan, ataukah ada budaya yang lebih tinggi dari itu yaitu bagaimana etika pemanfaatan bersama dari sebuah jalan raya.

Ada satu kejadian lucu yang saya ingat ketika saya melewati jalanan sekitar Cipinang. Di antara deretan mobil yang mengantri memasuki terowongan bawah By Pass, dari arah kiri meluncur dengan cepat sebuah metromini arah Kampung Melayu dan memotong dengan cepat di mulut terowongan. Wuzz… mantap….

Di kaca belakang metromini tersebut tertulis “Love is patient, Cor 13:4”. Walah!!!!

Sebuah wejangan yang sangat adiluhung tertempel dengan jelas di sebuah metromini yang supirnya sangat bertolak belakang dengan wejangan tersebut. Sama sekali tidak ada kesabaran dalam kelakuannya di jalan raya.

Yah, mungkin dia betul-betul diburu setoran… kalau nggak masuk setoran bisa nggak makan nanti anak istrinya. Atau mungkin dia lagi kebelet. Atau belum sarapan. Dan berbagai “atau” lainnya, demi mencoba untuk tetap berpikiran positif dari sebuah kelakuan negatif yang dipertontonkannya.

Metromini tersebut, dengan segala kontroversinya telah mengingatkan saya kembali bahwa Kasih itu Sabar… bawa mobil itu harus sabar. Dan juga mengingatkan untuk selalu mencoba berpikiran positif kepada orang lain, supaya jiwa kita tetap segar sepanjang hari.

Kasih itu sabar…

Salam damai.

Juni 10, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari | , , , , , , | 2 Komentar

Kekerasan di ruang keluarga…

Minggu-minggu ini media massa lagi ramai membahas kekerasan mahasiswa, antara UKI – YAI, dan Universitas Nurtanio Bandung.

Tawuran massal antara mahasiswa UKI dan YAI sudah melegenda. Saking melegendanya, orang sudah menjadi terbiasa dengan hal tersebut. Hebatnya, legenda jelek kok ya dibiarkan terus lho… Sementara itu, baru-baru ini ada lagi kasus Universitas Nurtanio. Melalui rekaman video, terlihat perpeloncoan semacam STPDN menghangat lagi.

Selama 1 minggu terakhir, sebuah stasiun televisi yang selama ini saya nilai paling aman untuk ditonton di ruang keluarga berulang kali mengulas masalah kekerasan di kalangan mahasiswa. Tapi lama kelamaan saya jadi bingung, kok cuplikan video yang penuh adegan kekerasan malah diulang-ulang terus menerus pada prime time.

Saya tidak menuduh atau menduga-duga, tapi saya rasakan kok stasiun televisi yang mengedepankan berita itu malah jadi menjual kekerasan untuk menarik perhatian penonton. Memang sih pertama kedua kali saya tertarik untuk nonton, tapi kok jadi diulang-ulang terus apa nggak malah bikin anak saya kebal rasa kalau dijejali tontonan seperti itu.

Sebelum lanjut, saya mohon doa Anda yang membaca tulisan ini supaya tulisan ini tidak dikategorikan pencemaran nama baik melalui media elektronik yang bisa dijerat dengan macam-macam pidana. Dan semoga stasiun TV yang saya maksud, yang sudah baik namanya sebagai stasiun TV berita tidak merasa disudutkan justru merasa diberikan kritik membangun dari penonton setianya.

Sekarang mari kita lanjutkan…

Untuk anak yang masih mencari bentuk mentalnya, segala input yang masuk ke dalam jiwanya akan diolah sedemikian rupa sehingga memberikan warna pada kepribadiannya. Pengalaman-pengalaman akan membekali dia dalam menghadapi berbagai hal dalam hidupnya.

Mari kita bayangkan apabila seorang anak dalam kesehariannya di ruang keluarga melihat hal-hal sebagai berikut di televisi (saya sebutkan 5 saja deh, silakan kalau mau ditambahkan).

  1. Majikan yang selalu menganggap rendah sang pembantu (yang ini ada di banyak acara sinetron, tidak perlu penjelasan panjang lebar)
  2. Anak-anak yang kurang menghargai orang tua (kalau pas browsing-browsing channel, hampir pasti ketemu adegan anak-anak lagi menunjuk-nunjuk muka orang yang lebih tua… apapun latarbelakang kejadiannya)
  3. Aksi-aksi yang over reaktif, over ekspresif, dan mendramatisir suasana (fiuh…. Jadi lebih sering melihat ekspresi meledak-ledak khas western atau melodrama ala India / oriental ketimbang melihat wajah-wajah adem ayem macam Adi Kurdi di layar kaca sekarang ini…)
  4. BANCI!!! (stok artis spesialis bencong makin over supply, makin nggak jelas fenomena bencong ini sesuatu yang normal apa nggak sih?)
  5. Perkelahian massal dan kekerasan mahasiswa dan pelajar (yang sangat saya sesalkan adalah penayangan yang berulang-ulang pada jam anak-anak menonton di stasiun TV yang selama ini saya kagumi)

Saya nggak berusaha (lagi) untuk menambah panjang tulisan tentang ANTI SINETRON, ANTI TV, dan lain-lain (untuk kasus no. 1 – 4). Tapi saya hanya mau mengungkapkan kekagetan saya, kok stasiun TV berita kesayangan saya agak keterusan dalam mempertontonkan tonjok-tonjokan di televisi (kasus 5).

Mungkin maksudnya untuk menyuguhkan fakta, tapi barangkali kita musti merenung lebih dalam lagi… sampai sebatas mana fakta-fakta yang kurang baik bisa ditayangkan di media massa tanpa membuat masyarakat menjadi terbiasa dan menganggap fakta tersebut merupakan kenyataan yang sudah apa adanya dan lumrah.

Untuk stasiun TV berita yang saya kagumi, bertahanlah pada idealisme sejati Anda. Jangan terpancing dengan rating yang menjerumuskan pada pembodohan masyarakat.

Salam damai…

Juni 9, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari, Indonesia tercinta | , , , , , , , | No Comments Yet

Karang laut Pulau Seribu yang mulai mati…

.

Pulau Sepa 06.

Setelah lama direncanakan, akhirnya jadi juga outbound ke Pulau Seribu. Supaya maksimal, maka kami satu Divisi perginya ke pulau yang cukup jauh yaitu PULAU SEPA. Kalau masih terlalu dekat katanya banyak ketemu sampah.

Naik boat berkapasitas sekitar 40 orang, laut pagi itu sangat tenang nyaris tanpa ombak. Kami bisa leluasa jalan kesana kemari dalam kapal. Ada sih yang mabok laut, tapi hanya satu orang. Secara umum perjalanan ke sana sangatlah tenang dan damai. Perjalanan sekitar 1,5 jam dari Marina Ancol berlalu tanpa kendala yang berarti, kamipun sampai di Pulau Sepa dalam kondisi siap tempur.

Di pulau Sepa ini acara kami sebenarnya adalah outbound dan team building di Divisi kami. Tapi tahu sendiri, kalau sudah ketemu pantai maka pastinya lebih banyak acara hepi-hepi dibandingkan seriusnya. Dari mulai main bola, snorkeling, main air, main pasir, snorkeling lagi, banana boat, karaoke, snorkeling lagi, dan lagi… dan lagi…

Buat Anda yang sudah pernah menyelam, barangkali snorkeling bukanlah sesuatu yang istimewa. Tapi buat saya, pengalaman baru itu benar-benar mencengangkan. Berenang-renang bersama ikan di antara beberapa karang, di antara pasir putih dan laut yang biru… ah nikmatnya.

Supaya lebih mudah Anda bayangkan, begini saja saya jelaskan. Saya ini hobi banget motret, buktinya saya berangkat ke Pulau Sepa lengkap dengan peralatan kamera, wide zoom lens, fix lens wide apperture, telezoom lense, flash, dan tripod. Peralatan kamera memenuhi 2/3 tas sementara baju hanya 1/3 tas. Tapi apa yang terjadi? Selama hari pertama saya di sana, sama sekali tidak ada mood ataupun keinginan untuk motret. Yang ingin saya lakukan hanyalah bergaul dengan pasir, air, ikan, dan karang. Itu saja cukup!!!

.

Pulau Sepa 15Beningnya pantai di Pulau Sepa

.

Ya begitulah kira-kira beningnya air di pantai Pulau Sepa, wajar dong kalau saya jadi lupa sama kamera dan tiba-tiba lebih memilih untuk menyelam lagi… dan lagi… he he he.

Beberapa jam menyelam, setelah itu duduk santai di pantai sambil menikmati semilir angin segar (nggak segar-segar amat sih, angin lembab pantai lebih tepatnya). Sambil diiringi deburan ombak-ombak kecil, ditemani kelapa hijau yang segar. Mantaaaappp!!!

Istirahat sebentar saja sudah bisa mengembalikan tenaga untuk lanjut ke permainan berikutnya, BANANA BOAT!!!

.

Banana boat 04Masa kecil kurang bahagia sepertinya, he he he…

.

Esok harinya, barulah mood memotret sedikit mengintip di pojok jiwa saya. Coba jalan-jalan ke dermaga, bertemu beberapa orang yang memancing dan saling memotret sebagai kenang-kenangan dari Pulau Sepa. Secara umum saya lihat tidak banyak aktivitas mengambil ikan di sini, mungkin karena pulaunya kecil dan lebih merupakan pulau resort bukannya pulau nelayan. Sepertinya dermaga ini memang buat orang memancing saja akhir-akhir ini.

.

Pulau Sepa 10Burung yang menemani hunting saya di pagi itu…

(kelihatan nggak burungnya?)

.

Pulau Sepa 12Mengucap janji di ujung dermaga…

.

Setelah semua euforia itu mulai mereda, barulah muncul pertanyaan di benak saya “KOK KARANGNYA BANYAK YANG MATI YA???”.

Di salah satu atol sekitar 10 menit dari pantai pulau Sepa, masih saya jumpai karang-karang hidup dan ikan-ikan yang lebih besar jumlah dan ukurannya. Kondisinya agak berbeda dengan di pantai, di mana hanya sekitar 25% karang yang masih hidup. Kebanyakan sudah berupa karang yang mengering.

Apakah yang menyebabkan kematian karang-karang itu?

Apakah kedatangan saya ke pulau Sepa turut ambil bagian sebagai penyebab kematian karang-karang tersebut?

Bagaimana caranya ya supaya karang-karang yang indah itu tetap hidup? Kata orang-orang pintar kan sebagian besar oksigen yang kita hisap berasal dari tumbuhan laut.  Hal ini mengingatkan saya ke tulisan saya sebelumnya tentang mulai berkurangnya keindahan pantai Dreamland Bali (Bali never ending beauty… ).

Keseimbangan atau ekuilibrium manusia dan lingkungan, betapa sebuah kondisi yang sepertinya sulit sekali terwujud. Ada terlalu banyak kepentingan di sana, di mana alam selalu menjadi yang pasif. Begitu datang saatnya sang alam aktif bereaksi, barulah kita manusia kalang kabut.

Mudah-mudahan kita semua makin arif dalam mengeksplorasi alam yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.

.

Pulau Sepa 16Diiringi renungan dari pinggir pantai…

.

.

Salam damai…

Juni 8, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Indonesia tercinta, jalan-jalan | , , , , , , , , , , | No Comments Yet

Orang sabar disayang Tuhan…

Hari Minggu sore, kebetulan ada yang harus dibeli di supermarket terdekat. Meluncurlah kami berempat (sekeluarga) sore itu menjelang senja. Dalam mobil, entah dapat ilham atau ide dari mana tahu-tahu Sekarlangit anak saya yang sulung bertanya dengan nada mengafirmasi, “Pak, orang sabar kan disayang Tuhan ya?”. Dengan tanpa ragu-ragu langsung saya jawab, “Ya iya dong…”.

Sambil terus nyetir, pikiran iseng saya mau lanjut tanya ke dia, “Emang kalau orang nggak sabar nggak disayang Tuhan?”. Tapi daripada berkelanjutan nggak jelas untuk dia yang masih kelas 1 SD pertanyaan itu saya simpan saja dalam hati.

Habis itu saya jadi kepikiran sendiri…

… kalau orang sabar disayang Tuhan, orang nggak sabar nggak disayang Tuhan? …

… lha katanya Tuhan Maha Penyayang, kok bisa nggak sayang? …

… Tuhan Maha Pengampun, kok bikin neraka? …

… Tuhan itu menguasai jagad raya, tapi kok ada istilah kaumKu? Berarti ada yang bukan kaumNya?…

… Tuhan tidak mau diduakan, katanya. Padahal orang yang dicap “menduakan” itu bukannya sedang menyembah apa yang dia percayai sebagai Tuhan juga? …

Syukurlah saya hidup di era 2000-an, di mana tidak ada lagi bidah-bidahan yang berujung ke hukum mati dengan dibakar atau dirajam. Paling-paling kalau ada yang tidak sependapat, ya saya bakal dikritik, apes-apesnya dicacimaki atau dicap murtad.

Tapi maksud saya sama sekali bukan itu, justru saya mempertanyakan lebih jauh… yang selama ini meng-humanisasi (entah benar apa tidak istilahnya) Tuhan itu siapa.

Sifat-sifat mengutamakan salah satu kaum, memberikan pembalasan atas kejahatan, dan hanya menerima satu cara untuk memuliakan namaNya, itu semua memang benar dari Sang Tuhan sendiri ataukah rekayasa dari orang-orang yang memposisikan diri sebagai wakilNya ya???

Kalau benar hanya AGAMA / SALAH SATU AGAMA yang bisa membawa manusia kepada Tuhannya, apa yang terjadi dengan jutaan / miliaran umat manusia yang hidup sebelum jaman agama itu hadir dunia?

Saya lebih merasa “adil” untuk tidak memprofilkan Tuhan sebagaimana kita manusia yang dilengkapi dengan rasa benci, cemburu, ingin balas dendam, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, saya juga mulai berusaha untuk tidak menekankan ke anak saya bahwa orang sabar disayang Tuhan dan orang jahat dibenci Tuhan.

TUHAN MENCINTAI KITA SEMUA UMAT MANUSIA!!!

Salam damai.

Juni 2, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari, Religi | , , , , , , , , | 5 Komentar