Latah, ikut-ikutan, atau memang tahu dan peduli?
Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto
Saya yakin bahwa tulisan di atas tentang gerakan 1 juta facebookers untuk mendukung Chandra dan Bibit sudah sangat Anda kenal melalui Facebook hingga running text di Metro TV yang selalu updated setiap jamnya.
Sama sekali bukan ingin mengatakan hal tersebut baik atau tidak, apalagi benar atau tidak. Lha siapa saya berhak menghakimi kebenaran sementara hakim-hakim agung saja belum tuntas dan lagi pusing menentukan siapa yang benar – siapa yang salah kecil – siapa yang salah besar – siapa yang biangnya salah.
Coba kalau dilakukan jajak pendapat dari 900 ribu lebih orang yang join gerakan itu (sampai tanggal 6 November 2009 pagi jumlahnya 921 ribuan), ditanyakan ke mereka:
- bagaimana sih duduk perkaranya masalah ini?
- kronologisnya seperti apa?
- siapa saja tokoh yang terlibat?
- pertanyaan utama: seberapa yakin bahwa yang Anda dukung itu benar adanya?
Syukurlah kalau ternyata sebagian besar menjawab dengan positif keempat pertanyaan di atas.
Mudah-mudahan rekan-rekan, saudara-saudara yang join gerakan tersebut bukan masuk kategori ikut-ikutan, latah, tahu setengah-setengah dan biar rame saja. Semoga saja sih tidak, tapi saya agak khawatir adanya konsentrasi massa yang cukup besar bisa mereduksi obyektivitas para pengambil keputusan.
Untuk Pak Bibit dan Pak Chandra, semoga kebenaran terungkap demi Indonesia yang lebih baik.
INDONESIA UNITE!!! FOR A BETTER INDONESIA!!!
Salam damai…
Memotong rejeki orang…

Air terjun Kampung Daun - Bandung
.
Malam minggu kemarin, ceritanya saya jalan-jalan ke Bandung. Berhubung sudah lama banget tidak merasakan berendam di air panas Sari Ater, maka jadilah saya kemarin bersama rekan-rekan meluncur ke arah Lembang terus menuju Sari Ater.
Wah, benar-benar menyegarkan berendam di air berkandungan belerang dengan suhu sekitar 39 – 42 derajat Celcius dalam naungan udara sejuk daerah Lembang. Keluhan saya tentang tempat ini hanya satu: MAHAL. Masuk parkir bayar, masuk gerbang bayar, masuk kolam renang bayar lagi. Ampun…
.

Di Pemandian Air Panas Sari Ater Lembang
.
Selepas berendam sekitar 1 jam, sempat nampang dulu seperti kebiasaan orang Indonesia pada umumnya yaitu sangat senang menganggu pemandangan indah dalam foto tempat yang dikunjunginya dengan menempatkan dirinya di tengah frame foto. Padahal belum tentu orang senang lihat tampang kita kan? Yang pasti orang lebih ingin tahu foto tempat-tempat yang kita datangi. Betul nggak? Tapi ya nggak papa deh, itu salah satu bukti kalau saya masih orang Indonesia… Bukti lainnya adalah fakta bahwa saya termasuk sibuk mencari oleh-oleh, he he he…
Jam menunjukkan pukul 19:00, badan sudah segar setelah berendam dan mandi. Apa lagi yang dirasakan saat itu selain rasa LAPAR!!! Terbayanglah sepiring hot plate dengan sate kambing + sate buntel yang mengepul panas plus teh poci. Pikiran langsung menerawang ke Sate Karjan di kawasan Pasir Kaliki Bandung.
Akan tetapi mungkin Pak Karjan malam itu belum rejekinya dapat saya nikmati satenya, maka jadilah kami meluncur ke Kampung Daun (itu fotonya ada di awal artikel ini).
Berhubung saya memang sudah ngiler sate, maka jadilah saya pesan sate juga di Kampung Daun.
Nah, sampai di sini saya cukupkan dulu cerita tentang Kampung Daun ini.
Selanjutnya saya ingin bertanya, kalau kita menceritakan sesuatu yang kurang baik atau tidak merekomendasikan sebuah tempat usaha… bisakah kita disebut MEMOTONG REJEKI ORANG?
Saya pernah baca tulisan yang sangat menarik dari Pak Bondan menanggapi komentar pembaca / pemirsa yang mengkritik beliau karena tidak pernah bilang sebuah makanan tidak enak. Nah jawaban beliau kira-kira mengarah ke sana, bahwa dia takut kalau dia bilang tidak enak terus tempat makan itu jadi tidak laku.
Mulai saat ini, saya jadi agak berpikir-pikir lagi untuk memberi cap kurang baik pada apapun yang jadi sumber penghidupan orang lain.
.

Saung di Kampung Daun Bandung
.
Kembali ke Kampung Daun, bisa saya katakan tempat ini sangat indah untuk kita kunjungi. Nuansa dan atmosfirnya sangat menghanyutkan jiwa.
Salam damai…
INGLOURIOUS BASTERDS…

Inglourious Basterds
QUENTIN TARANTINO buat film baru lagi, dan baru minggu lalu saya berkesempatan menontonnya. Berhubung sutradaranya Tarantino, maka setelah saya duduk di dalam sinema segera saya siapkan mata, hati, pikiran, dan nyali untuk segala kemungkinan yang bisa terpampang di layar perak di depan saya. Sejarah membuktikan, Tarantino sangat hobi dengan darah – gejolak emosi – dan jalan cerita yang sangat tidak bisa ditebak.
Ehm, selanjutnya saya agak bingung nih… antara mau menjelaskan jalan ceritanya atau tidak. Kalau saya tidak menjelaskan ceritanya, terus saya mau bahas apa di sini? Di sisi lain kalau saya ceritakan takutnya mengurangi kenikmatan buat yang belum menonton. Serba salah ya?
Begini saja, berhubung film ini sudah cukup lama diputar maka saya asumsikan sebagian besar sudah menonton. Saya nggak akan ceritakan terlalu detil, hanya beberapa potongan cerita saja yang lumayan mengena buat saya.
Sebenarnya apa yang membuat sebuah film bisa dikatakan FILM BAGUS? Saya bukan pakar resensi film, tapi kalau boleh sedikit berandai-andai jadi kritikus film maka ada beberapa cara bagi sebuah film untuk bisa masuk ke kategori bagus (menurut saya tentunya).
- Film yang bertaburkan keindahan. Film jenis ini contohnya adalah LASKAR PELANGI. Dalam film ini kita dimanjakan dengan keindahan alam, keindahan masa kanak-kanak dengan segala romantikanya, keindahan sebuah SD yang hampir roboh dengan kejeniusan anak-anak didalamnya. Keindahan dalam film Laskar Pelangi hingga mampu menghanyutkan lamunan saya kembali ke masa kecil. Tentu saja “keindahan” yang saya maksud di sini tidaklah belaka hanya berisi hal-hal yang menyenangkan. Penderitaan dan kegagalanpun mampu dikemas menjadi sebuah keindahan yang mewarnai kehidupan ini.

Laskar Pelangi
- Film yang merasuk ke dalam jiwa. Film jenis ini contohnya adalah THE GODFATHER. Film yang satu ini memang sangat fenomenal. Ketika kita menontonnya, kita serasa bukanlah menyaksikan sebuah film tetapi seperti menyaksikan sebuah kehidupan nyata dengan orang-orangnya didalamnya. Setiap aktor dan aktris didalamnya seakan bukan lagi berakting, tetapi seperti hidup dalam kehidupan kesehariannya. Melihat The Godfather seakan jiwa kita dibawa memasuki alam kehidupan mereka, disitulah letak kenikmatan yang ditawarkan film tersebut. Dari generasi ke generasi, kita menyaksikan pergumulan masing-masing karakter. Kita diajak untuk memahami situasi dan kondisi yang mereka hadapi, dan melihat jalan mana yang mereka pilih dalam kehidupan ini. Adegan yang terasa paling “menyengat” adalah kesedihan yang teramat sangat dari seorang Michael Corleone (Al Pacino) ketika anak perempuan kesayangannya mati tertembak di depan matanya. Betul-betul akting nomor satu yang disuguhkannya. Superb!!!

The Godfather
- Film yang memainkan imajinasi dan realita. Nah, barangkali di sisi sini film INGLOURIOUS BASTERDS menawarkan keunggulannya. Seperti biasa, Quentin Tarantino begitu liar memainkan realita yang tersamarkan dengan imajinasi. Bumbu-bumbu sadisme makin menguatkan karakter film ini. Bagi yang nggak kuat lihat darah, mendingan jauh-jauh deh dari film ini. Sadis coy…

Inglourious Basterds - Sadis
Untuk menggambarkan salah satu kesadisan dalam film ini, lihat saja foto adegan di atas. Ya benar, itu adalah adegan di mana tentara Amerika sedang “memahat” kepala tentara NAZI dengan lambang NAZI menggunakan belati. Yang namanya adegan DAR DER DOR… segala aksi dengan pisau atau belati menyayat kulit… merupakan rutinitas dalam film ini. Siapkanlah nyali dan perut Anda untuk menyaksikan adegan pengirisan kulit kepala tersebut.

Inglourious Basterds - The NAZIs
Lalu bagaimana dengan kesadisan tentara NAZI? Juga digambarkan dalam film ini, bagaimana kejamnya tentara NAZI dalam membantai keluarga Yahudi. Kebengisan, kelicikan, serta kejeniusan dalam satu karakter dengan sangat indah diperankan dalam tokoh Hans Landa… seorang perwira NAZI yang bertugas menghabisi Yahudi di Prancis. Sungguh sebuah akting yang memukau, membawa Christoph Waltz – pemeran aktor Hans Landa – memenangkan penghargaan di Cannes tahun 2009 ini.
Lepas dari segala bumbu sadisme yang sangat kuat mewarnai film ini, ada 2 hal tentang sisi lain kehidupan yang justru tampil dengan samar-samar dan sangat menarik untuk dicermati…
- PERANG ITU SADIS!!! With alll due respect terhadap segala slogan Kemerdekaan, Hak Asasi Manusia, dan lain-lain… satu hal yang pasti bahwasanya yang namanya perang itu sangat sadis. Untuk para saudara-saudara yang gembar-gembor tentang perang dengan Malaysia, tolong dipertimbangkan lagi… Kalau ada pepatah “Darah itu merah, Jenderal!” – maka kalau versi saya “Perang itu sadis, kawan…”. Benar-benar sebuah cara penyelesaian masalah yang paling primitif yang ada dalam peradaban manusia, itupun kalau bisa dikategorikan peradaban. Perang = adab?
- HOMO HOMINI LUPUS!!! Dalam sebuah situasi yang sangat kritis, apalagi masalah hidup dan mati – maka disitulah sifat-sifat atau naluri dasar manusia muncul. Egoisme, Oportunis, Sadis, Licik, dan berbagai karakter lainnya sebagai pengejawantahan dari frasa “HOMO HOMINI LUPUS” – A man is a wolf to (his fellow) man.
INLGOURIOUS BASTERDS, sebuah masterpiece baru dari Quentin Tarantino yang berhasil menampilkan realita dari wujud naluri homo homini lupus manusia dalam kemasan film yang sangat imajinatif. Recommended!!! Two thumbs up!!!
BRAVO QUENTIN TARANTINO!!!!
Salam damai…
Keajaiban Cinta…

Make a wish...
.
Tanggal 7 Oktober 2009 lalu, genap 1 tahun anak bungsu saya: ANASTASIA LINTANG PRADARATRI.
Dirayakan kecil-kecilan di rumah, pesta mungil itu dihiasi dengan sebentuk kue tart – tumpeng nasi kuning lengkap dengan mie panjang umur – dan beberapa kado untuk si kecil Lintang. Tampak jelas diwajahnya, betapa acara kecil itu sangatlah membahagiakan hatinya. Apalagi setelah kado-kado itu terbuka, dan sepertinya anak usia 1 tahunpun sudah paham bahwa pesta dan kado-kado tersebut didedikasikan hanya untuk dirinya.
Masih belum puas rasanya saya melihat roman muka yang begitu ceria diwajahnya, manakala dia mendapati dirinya di antara kue, tumpeng dan kado-kado untuknya walaupun dalam jumlah yang tidak seberapa.
.

I'm happy!!!!
.
Senyum itu begitu lebar… senyum itu begitu lepas… melepaskan segala kepenatan di badan dan jiwa saya malam itu. Saya tidak tahu persis, apakah senyum itu sebagai tanda kesenangan akan hadiah dan kue ulang tahun ataukah lebih ditujukan kepada besarnya perhatian dan kasih sayang yang malam itu 100% ditujukan kepadanya.
Melihatnya tersenyum begitu ceria, kembali mengingatkan saya akan KEAJAIBAN CINTA.
Getaran cinta itu muncul bukan hanya setiap kali melihat atau menyentuhnya, tetapi juga setiap kali mengingatnya. Gejala-gejala yang timbul akibat rasa cinta ini, sungguh ajaib, begitu berbeda satu sama lain.
Rasa cinta yang saya rasakan kali ini sangat berbeda dengan yang dirasakan anak muda. Di mana di antara ratusan teman wanitanya di sekolah tetapi entah kenapa hatinya hanya tertambat kepada seorang gadis saja. Apakah itu karena kecantikannya, kepintarannya, kelembahlembutannya, ataukah apa… Tapi yang pasti segala gerak-gerik sang gadis akan menstimulasi gejolak di hatinya. Bayangan akan menemui sang gadis esok hari di sekolah selalu menggelayuti angannya setiap malam. Bukan, bukanlah reaksi kimia seperti “butterfly in the stomach” dan bunga-bunga romantisme yang saya rasakan kali ini…
Rasa cinta yang saya rasakan kali ini sangat berbeda dengan yang dirasakan seorang calon pengantin. Di mana tiba-tiba terbentang dihadapannya sebuah masa depan yang barangkali tidak pernah dia bayangkan atau pikirkan sebelumnya. Bahwa dari berbagai pilihan hidup, akhirnya dia memutuskan untuk memilih jalan hidup yang satu itu untuk sepanjang sisa hidupnya. Memandang pendamping hidupnya yang juga telah bersiap mengarungi kehidupan bersama di dunia ini, sungguh merupakan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Akan tetapi, bukanlah perasaan cinta seperti itu yang saya rasakan kali ini…
Rasa cinta ini, tanpa mengesampingkan perasaan cinta yang lain, ibarat rasa cinta yang lahir dari dalam diri kita sendiri. Membayangkan, mengingat, memikirkan, memandang, menyentuh, sebentuk mahluk yang ada di dunia ini sebagai hasil dari keberadaan kita… sungguh bukanlah perasaan yang ringan.
Dia (mereka) ada karena saya…
Lebih daripada itu, dia adalah saya dan saya adalah dia…
Mereka adalah saya dan saya adalah mereka…
Apakah di dunia ini yang tidak sanggup saya korbankan demi kebaikan dia (mereka)…
Yang lebih ajaib lagi, perasaan cinta itu datang dengan bentuk yang sangat unik dan beraneka ragam. Perasaan yang saya rasakan anak yang satu, akan berbeda dengan kepada anak satunya. Keduanya merupakan perasaan cinta yang sama dasar dan konsepnya, tetapi entah bagaimana keduanya sanggup mengukir hati saya dengan cara yang berlainan. Dan kedua cara tersebut sama-sama indahnya…
Barangkali, itulah sekelumit kecil dari megahnya Keajaiban Cinta.
Salam damai…
Nonton Sirkus…

- Sirkus Oriental – BSD
Mendengar ada Circus Coming To Town dari teman kantor, saya langsung cari info lengkapnya di internet. Didapatlah info ternyata ada pertunjukan Sirkus Oriental di Bumi Serpong Damai (BSD). Wah, pasti anak saya senang nih kalau bisa nonton Sirkus. Selain buat kesenangan, juga untuk menambah wawasan serta membuka jendela imajinasinya…
Sirkus yang kami tonton malam tersebut menampilkan mulai dari atraksi binatang (gajah, harimau, anjing, simpanse), dan akrobat oleh para pemain sirkus yang cukup terlatih. Ternyata mereka adalah dari Taman Safari Group.
Silakan dinikmati beberapa hasil jepretan yang berhasil saya ambil, di antara keterbatasan tempat – ruang – dan cahaya. Tempat duduk saya setengah tertutup tiang dan spacenya cukup sempit, sementara tidak memungkinkan untuk berpindah-pindah lokasi mencari berbagai spot motret. Cahaya agak kurang memadai untuk sebuah show, makanya saya berkali-kali tukar lensa untuk setiap atraksi mensiasati panjang fokus / focal length dan apperture lensa untuk mengakomodasi minimnya cahaya di beberapa show yang low light.
Monggo dipun pirsani…
Silakan dilihat-lihat dan dinikmati…
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Flying Ballet 01
Melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi…
tenggelam dalam lautan emosi…
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Flying Ballet 02
Kolaborasi pasangan Flying Ballet, kombinasi kekuatan – kelenturan – keharmonisan.
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Flying Ballet 03
Komentar anak saya yang cukup mengejutkan, “Yang flying ballet ROMANTIS banget”.
Gubrak!!! 7 years old girl talking about ROMANTIS… Oh my…
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Badut
Badut & Gorilla…
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Akrobat
Akrobat tangga manusia, satu orang bisa naik tinggi berkat orang dibawahnya.
Mengingatkan saya untuk kembali ingat orang-orang yang mendukung saya hingga saya bisa seperti sekarang ini.
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Manusia Lilin
Kekuatan dan kelenturan, menjadikan sebuah keindahan…
.
Memang, dibandingkan dengan pertunjukan yang pernah saya lihat di China… sirkus kali ini bisa dibilang masih “mentah”. Masih hangat di benak saya keindahan yang disuguhkan di depan mata saya waktu melihat show di China. Dari mulai persiapan, kematangan teknik, kesalahan-kesalahan kecil, penanganan kostum, pencahayaan, penataan panggung, masih terasa adanya jurang perbedaan antara keduanya.
Sebagai perbandingan, berikut ini hasil jepretan yang saya dapatkan di China. Untuk mendapatkan hasil foto berikut ini bisa dikatakan effort saya lebih mudah karena lokasinya lebih nyaman dan pencahayaan lebih baik.
Sekali lagi, silakan dinikmati…

China Shenzhen Show - 01
Kostum gemerlap, laser teknologi tinggi, lighting yang ciamik…
.

China Shenzhen Show - 02
Salah satu wanita terpilih dari miliaran rakyat China untuk ditonton wisatawan mancanegara…
.
Untuk urusan memanjakan mata dan jiwa, barangkali kita memang masih harus menuntut ilmu sampai ke negeri China.
Salam damai…







